Aku
sedang menonton televisi di kamarku ketika Fay keluar dari kamar mandi
mengenakan baju tidur. Hm.. dia pasti habis cuci muka dan bersih-bersih sebelum
tidur. Di kamar tidur kami memang terdapat kamar mandi dan televisi, sehingga
aku menonton televisi sambil tiduran. Fay berbaring di sampingku, dan
memejamkan matanya. Lho? Dia langsung mau tidur nih! Padahal aku sejak tadi
menunggu dia. Lihat saja, si “ujang” sudah bangun menantikan jatahnya.
“Fay! Kok langsung tidur sih?”
“Mm..?”
Fay membuka matanya. Lalu ia duduk dan menatapku. Kemudian ia tersenyum manis. Woow… burungku semakin mengeras. Fay mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangannya yang lembut halus membelai wajahku. Jantungku berdetak cepat. Kurangkul tubuhnya yang mungil dan hangat. Terasa nyaman sekali. Fay mencium pipiku. “Cupp..!”
“Tidur yang nyenyak yaa…” katanya perlahan.
Lalu ia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Tidur! Nah lho? Sial benar. Cuma begitu saja? Aku terbengong beberapa saat.
“Fay! Faayy..!” aku mengguncang-guncang tubuhnya.
“Umm… udah maleem… Fay ngantuk niih…”
Kalau sudah begitu, percuma saja. Dia tidak akan bangun. Padahal aku sedang birahi tinggi dan butuh pernyaluran. Si “ujang” masih tegang dan penasaran minta jatah.
“Mm..?”
Fay membuka matanya. Lalu ia duduk dan menatapku. Kemudian ia tersenyum manis. Woow… burungku semakin mengeras. Fay mendekatkan wajahnya ke wajahku. Tangannya yang lembut halus membelai wajahku. Jantungku berdetak cepat. Kurangkul tubuhnya yang mungil dan hangat. Terasa nyaman sekali. Fay mencium pipiku. “Cupp..!”
“Tidur yang nyenyak yaa…” katanya perlahan.
Lalu ia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Tidur! Nah lho? Sial benar. Cuma begitu saja? Aku terbengong beberapa saat.
“Fay! Faayy..!” aku mengguncang-guncang tubuhnya.
“Umm… udah maleem… Fay ngantuk niih…”
Kalau sudah begitu, percuma saja. Dia tidak akan bangun. Padahal aku sedang birahi tinggi dan butuh pernyaluran. Si “ujang” masih tegang dan penasaran minta jatah.
Begitulah
Fay. Sebagai istri, dia hampir sempurna. Wajah dan fisiknya enak dilihat,
sifatnya baik dan menarik. Perhatiannya pada kebutuhanku sehari-hari sangat
cukup. Hanya saja, kalau di tempat tidur dia sangat “hemat”. Nafsuku terbilang
tinggi. Sedangkan Fay, entah kenapa (menurutku) hampir tidak punya nafsu seks.
Tidak heran meskipun sudah lebih setahun kami menikah, sampai saat ini kami
belum punya anak. Untuk pelampiasan, aku terkadang selingkuh dengan wanita
lain. Fay bukannya tidak tahu. Tapi tampaknya dia tidak terlalu mempermasalahkannya.
Nafsuku
sulit ditahan. Rasanya ingin kupaksa saja Fay untuk melayaniku. Tapi melihat
wajahnya yang sedang pulas, aku jadi tidak tega. Kucium rambutnya. Akhirnya
kuputuskan untuk tidur sambil memeluk Fay. Siapa tahu dalam mimpi, Fay mau memuaskanku?
Hehehe…
Esoknya
saat jam istirahat kantor, aku makan siang di Citraland Mall. Tidak disangka,
disana aku bertemu dengan Ami, sahabatku dan Fay semasa kuliah dahulu. Kulihat
Ami bersama dengan seorang wanita yang mirip dengannya. Seingatku, Ami tidak
punya adik. Ternyata setelah kami diperkenalkan, wanita itu adalah adik sepupu
Ami. Fita namanya. Heran juga aku, kok saudara sepupu bisa semirip itu ya?
Pendek kata, akhirnya kami makan satu meja.
Sambil
makan, kami mengobrol. Ternyata Fita seperti juga Ami, tipe yang mudah akrab
dengan orang baru. Terbukti dia tidak canggung mengobrol denganku. Ketika aku
menanyakan tentang Joe (suami Ami, sahabatku semasa kuliah), Ami bilang bahwa
Joe sedang pergi ke Surabaya sekitar dua minggu yang lalu untuk suatu
keperluan.
“Paling
juga disana dia main cewek!” begitu komentar Ami.
Aku hanya manggut-manggut saja. Aku kenal baik dengan Joe, dan bukan hal yang aneh kalau Joe ada main dengan wanita lain disana. Saat Fita permisi untuk ke toilet, Ami langsung bertanya padaku.
“Van, loe ama Fay gimana?”
“Baek. Kenapa?”
“Dari dulu loe itu kan juga terkenal suka main cewek. Kok bisa ya akur ama Fay?”
Aku diam saja.
Aku hanya manggut-manggut saja. Aku kenal baik dengan Joe, dan bukan hal yang aneh kalau Joe ada main dengan wanita lain disana. Saat Fita permisi untuk ke toilet, Ami langsung bertanya padaku.
“Van, loe ama Fay gimana?”
“Baek. Kenapa?”
“Dari dulu loe itu kan juga terkenal suka main cewek. Kok bisa ya akur ama Fay?”
Aku diam saja.
Aku dan
Fay memang lumayan akur. Tapi di ranjang jelas ada masalah. Kalau dituruti
nafsuku, pasti setiap hari aku minta jatah dari Fay. Tapi kalau Fay dituruti,
paling hebat sebulan dijatah empat atau lima kali! Itu juga harus main paksa.
Seingatku pernah terjadi dalam sebulan aku hanya dua kali dijatah Fay. Jelas
saja aku selingkuh! Mana tahan?
“Kok
diem, Van?” pertanyaan Ami membuyarkan lamunanku.
“Nggak kok…”
“Loe lagi punya masalah ya?”
“Nggaak…”
“Jujur aja deh…” Ami mendesak.
Kulirik Ami. Wuih, nafsuku muncul. Aku jadi teringat saat pesta di rumah Joe. Karena nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun, maka akal sehatku pun hilang.
“Nggak kok…”
“Loe lagi punya masalah ya?”
“Nggaak…”
“Jujur aja deh…” Ami mendesak.
Kulirik Ami. Wuih, nafsuku muncul. Aku jadi teringat saat pesta di rumah Joe. Karena nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun, maka akal sehatku pun hilang.
“Cerita
doong..!” Ami kembali mendesak.
“Mi.., loe mau pesta “assoy” lagi nggak?” aku memulai. Ami kelihatan kaget.
“Eh? Loe jangan macem-macem ya Van!” kecam Ami.
Aduh.., kelihatannya dia marah.
“Sorry! Sorry! Gue nggak serius… sorry yaa…” aku sedikit panik.
“Mi.., loe mau pesta “assoy” lagi nggak?” aku memulai. Ami kelihatan kaget.
“Eh? Loe jangan macem-macem ya Van!” kecam Ami.
Aduh.., kelihatannya dia marah.
“Sorry! Sorry! Gue nggak serius… sorry yaa…” aku sedikit panik.
Tiba-tiba
Ami tertawa kecil.
“Keliatannya loe emang punya masalah deh… Oke, nanti sore kita ketemu lagi di sini ya? Gue juga di rumah nggak ada kerjaan.”
Saat itu Fita kembali dari toilet. Kami melanjutkan mengobrol sebentar, setelah itu aku kembali ke kantor.
“Keliatannya loe emang punya masalah deh… Oke, nanti sore kita ketemu lagi di sini ya? Gue juga di rumah nggak ada kerjaan.”
Saat itu Fita kembali dari toilet. Kami melanjutkan mengobrol sebentar, setelah itu aku kembali ke kantor.
Jam 5
sore aku pulang kantor, dan langsung menuju tempat yang dijanjikan. Sekitar
sepuluh menit aku menunggu sebelum akhirnya telepon genggamku berdering. Dari
Ami, menanyakan dimana aku berada. Setelah bertemu, Ami langsung mengajakku
naik ke mobilnya. Mobilku kutinggalkan disana. Di jalan Ami langsung menanyaiku
tanpa basa-basi.
“Van, loe lagi butuh seks ya?”
Aku kaget juga ditanya seperti itu. “Maksud loe?”
“Loe nggak usah malu ama gue. Emangnya Fay kenapa?”
Aku menghela nafas. Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan uneg-unegku.
“Van, loe lagi butuh seks ya?”
Aku kaget juga ditanya seperti itu. “Maksud loe?”
“Loe nggak usah malu ama gue. Emangnya Fay kenapa?”
Aku menghela nafas. Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan uneg-unegku.
“Mi…
Fay itu susah banget… dia bener-bener pelit kalo soal begitu. Loe bayangin aja,
gue selalu nafsu kalo ngeliat dia. Tapi dia hampir nggak pernah ngerespon. Kan
nafsu gue numpuk? Gue butuh penyaluran dong! Untung badannya kecil, jadi
kadang-kadang gue paksa dia.”
Ami tertawa. “Maksudnya loe perkosa dia ya? Lucu deh, masa istri sendiri diperkosa sih?”
“Dia nggak marah kok. Lagi gue perkosanya nggak kasar.”
“Mana ada perkosa nggak kasar?” Ami tertawa lagi. “Dan kalo dia nggak marah, perkosa aja dia tiap hari.”
“Kasian juga kalo diperkosa tiap hari. Gue nggak tega kalo begitu…”
“Jadi kalo sekali-sekali tega ya?”
“Yah… namanya juga kepepet… Udah deh… nggak usah ngomongin Fay lagi ya?”
“Oke… kita juga hampir sampe nih…”
Ami tertawa. “Maksudnya loe perkosa dia ya? Lucu deh, masa istri sendiri diperkosa sih?”
“Dia nggak marah kok. Lagi gue perkosanya nggak kasar.”
“Mana ada perkosa nggak kasar?” Ami tertawa lagi. “Dan kalo dia nggak marah, perkosa aja dia tiap hari.”
“Kasian juga kalo diperkosa tiap hari. Gue nggak tega kalo begitu…”
“Jadi kalo sekali-sekali tega ya?”
“Yah… namanya juga kepepet… Udah deh… nggak usah ngomongin Fay lagi ya?”
“Oke… kita juga hampir sampe nih…”
Aku
heran. Ternyata Ami menuju ke sebuah apartemen di Jakarta Barat. Dari tadi aku
tidak menyadarinya.
“Mi, apartemen siapa nih?”
“Apartemennya Fita. Pokoknya kita masuk dulu deh…”
“Mi, apartemen siapa nih?”
“Apartemennya Fita. Pokoknya kita masuk dulu deh…”
Fita
menyambut kami berdua. Setelah itu aku menunggu di sebuah kursi, sementara Fita
dan Ami masuk ke kamar. Tidak lama kemudian Ami memanggilku dari balik pintu
kamar tersebut. Dan ketika aku masuk, si “ujang” langsung terbangun, sebab
kulihat Ami dan Fita tidak memakai pakaian sama sekali. Mataku tidak berkedip
melihat pemandangan hebat itu. Dua wanita yang cantik yang wajahnya mirip
sedang bertelanjang bulat di depanku. Mimpi apa aku?
“Kok
bengong Van? Katanya loe lagi butuh? Ayo sini..!” panggil Ami lembut.
Aku menurut bagai dihipnotis. Fita duduk bersimpuh di ranjang.
“Ayo berbaring disini, Mas Ivan.”
Aku berbaring di ranjang dengan berbantalkan paha Fita. Kulihat dari sudut pandangku, kedua bagian bawah payudara Fita yang menggantung mempesona. Ukurannya lumayan juga. Fita langsung melucuti pakaian atasku, sementara Ami melucuti pakaianku bagian bawah, sampai akhirnya aku benar-benar telanjang. Batang kemaluanku mengacung keras menandakan nafsuku yang bergolak.
Aku menurut bagai dihipnotis. Fita duduk bersimpuh di ranjang.
“Ayo berbaring disini, Mas Ivan.”
Aku berbaring di ranjang dengan berbantalkan paha Fita. Kulihat dari sudut pandangku, kedua bagian bawah payudara Fita yang menggantung mempesona. Ukurannya lumayan juga. Fita langsung melucuti pakaian atasku, sementara Ami melucuti pakaianku bagian bawah, sampai akhirnya aku benar-benar telanjang. Batang kemaluanku mengacung keras menandakan nafsuku yang bergolak.
“Gue
pijat dulu yaa…” kata Ami.
Kemudian Ami menjepit kemaluanku dengan kedua payudaranya yang montok itu. Ohh.., kurasakan pijatan daging lembut itu pada kemaluanku. Rasanya benar-benar nyaman. Kulihat Ami tersenyum kepadaku. Aku hanya mengamati bagaimana kedua payudara Ami yang sedang digunakan untuk memijat batang penisku.
“Enak kan, Van?” Ami bertanya.
Aku mengangguk. “Enak banget. Lembut…”
Kemudian Ami menjepit kemaluanku dengan kedua payudaranya yang montok itu. Ohh.., kurasakan pijatan daging lembut itu pada kemaluanku. Rasanya benar-benar nyaman. Kulihat Ami tersenyum kepadaku. Aku hanya mengamati bagaimana kedua payudara Ami yang sedang digunakan untuk memijat batang penisku.
“Enak kan, Van?” Ami bertanya.
Aku mengangguk. “Enak banget. Lembut…”
Fita
meraih dan membimbing kedua tanganku dengan tangannya untuk mengenggam
payudaranya. Dia membungkuk, sehingga kedua payudaranya menggantung bebas di
depan wajahku.
“Van, perah susu gue ya?” pintanya nakal.
Aku dengan senang hati melakukannya. Kuperah kedua susunya seperti memerah susu sapi, sehingga Fita merintih-rintih.
“Ahh… aww… akh… terus.. Van… ahh… ahhh…”
Payudara Fita terasa legit dan kenyal. Aku merasa seperti raja yang dilayani dua wanita cantik. Akhirnya Ami menghentikan pijatan spesialnya. Berganti tangan kanannya menggenggam pangkal si “ujang”.
“Van, perah susu gue ya?” pintanya nakal.
Aku dengan senang hati melakukannya. Kuperah kedua susunya seperti memerah susu sapi, sehingga Fita merintih-rintih.
“Ahh… aww… akh… terus.. Van… ahh… ahhh…”
Payudara Fita terasa legit dan kenyal. Aku merasa seperti raja yang dilayani dua wanita cantik. Akhirnya Ami menghentikan pijatan spesialnya. Berganti tangan kanannya menggenggam pangkal si “ujang”.
“Dulu
diwaktu pesta di rumah gue, kontol loe belum ngerasain lidah gue ya?” kata Ami,
dan kemudian dengan cepat lidahnya menjulur menjilat si “ujang” tepat di bagian
bawah lubangnya.
Aku langsung merinding keenakan dibuatnya. Dan beberapa detik kemudian kurasakan hangat, lembut, dan basah pada batang kemaluanku. Si “ujang” telah berada di dalam mulut Ami, tengah disedot dan dimainkan dengan lidahnya. Tidak hanya itu, Ami juga sesekali mengemut telur kembarku sehingga menimbulkan rasa ngilu yang nikmat. Sedotan mulut Ami benar-benar membuatku terbuai, apalagi ketika ia menyedot-nyedot ujung kemaluanku dengan kuat. Enaknya tidak terlukiskan. Sampai kurasakan alat kelaminku berdenyut-denyut, siap untuk memuntahkan sperma.
Aku langsung merinding keenakan dibuatnya. Dan beberapa detik kemudian kurasakan hangat, lembut, dan basah pada batang kemaluanku. Si “ujang” telah berada di dalam mulut Ami, tengah disedot dan dimainkan dengan lidahnya. Tidak hanya itu, Ami juga sesekali mengemut telur kembarku sehingga menimbulkan rasa ngilu yang nikmat. Sedotan mulut Ami benar-benar membuatku terbuai, apalagi ketika ia menyedot-nyedot ujung kemaluanku dengan kuat. Enaknya tidak terlukiskan. Sampai kurasakan alat kelaminku berdenyut-denyut, siap untuk memuntahkan sperma.
“Mi…
gue… udah mau.. ke.. luar…”
Ami semakin intens mengulum dan menyedot, sehingga akhirnya kemaluanku menyemprotkan sperma berkali-kali ke dalam mulut Ami. Lemas badanku dibuatnya. Tanganku yang beraksi pada payudara Fita pun akhirnya berhenti. Ami terus mengulum dan menyedot kemaluanku, sehingga menimbulkan rasa ngilu yang amat sangat. Aku tidak tahan dibuatnya.
Ami semakin intens mengulum dan menyedot, sehingga akhirnya kemaluanku menyemprotkan sperma berkali-kali ke dalam mulut Ami. Lemas badanku dibuatnya. Tanganku yang beraksi pada payudara Fita pun akhirnya berhenti. Ami terus mengulum dan menyedot kemaluanku, sehingga menimbulkan rasa ngilu yang amat sangat. Aku tidak tahan dibuatnya.
“Aahh…
Ami… udahan dulu dong..!”
“Kok cepet banget keluar?” ledeknya.
“Uaah.., gue kelewat nafsu sih.. maklum dong, selama ini ditahan terus.” aku membela diri.
“Oke deh, kita istirahat sebentar.”
“Kok cepet banget keluar?” ledeknya.
“Uaah.., gue kelewat nafsu sih.. maklum dong, selama ini ditahan terus.” aku membela diri.
“Oke deh, kita istirahat sebentar.”
Ami
lalu menindih tubuhku. Payudaranya menekan dadaku, begitu kenyal rasanya.
Nafasnya hangat menerpa wajahku. Fita mengambil posisi di selangkanganku,
menjilati kemaluanku. Gairahku perlahan-lahan bangkit kembali. Kuraba-raba
kemaluan Ami hingga akhirnya aku menemukan daging kenikmatannya. Kucubit pelan
sehingga Ami mendesah perlahan. Kugunakan jari jempol dan telunjukku untuk
memainkan daging tersebut, sementara jari manisku kugunakan untuk mengorek
liang sanggamanya. Desahan Ami semakin terdengar jelas. Kemaluannya terasa
begitu basah. Sementara itu Fita terus saja menjilati kemaluanku. Tidak hanya
itu, Fita mengosok-gosok mulut dan leher si “ujang”, sehingga sekali lagi bulu
kudukku merinding menahan nikmat.
Kali
ini aku merasa lebih siap untuk tempur, sehingga langsung saja aku membalik
posisi tubuhku, menindih Ami yang sekarang jadi telentang. Dan langsung kusodok
lubang sanggamanya dengan batang kemaluanku. Ami mendesis pendek, lalu menghela
nafasnya. Seluruh batang kemaluanku terbenam ke dalam rahim Ami. Aku mulai
mengocok maju mundur. Ami melingkarkan tangannya memeluk tubuhku. Fita yang
menganggur melakukan matsurbasi sambil mengamati kami berdua yang sedang
bersatu dalam kenikmatan bersetubuh. Ami mengeluarkan jeritan-jeritan kecil,
sampai akhirnya berteriak saat mencapai puncak kenikmatannya, berbeda denganku
yang lebih kuat setelah sebelumnya mencapai orgasme.
Kucabut
batang kemaluanku dari vagina Ami, dan langsung kuraih tubuh Fita. Untuk
mengistirahatkan si “ujang”, aku menggunakan jari-jariku untuk mengobok-obok
vagina Fita. Kugosok-gosok klitorisnya sehingga Fita mengerang keras. Kujilati
dan kugigit lembut sekujur payudaranya, kanan dan kiri. Fita meremas rambutku,
nafasnya terengah-engah dan memburu. Setelah kurasakan cukup merangsang Fita,
aku bersedia untuk main course.
Fita
nampaknya sudah siap untuk menerima seranganku, dan langsung mengambil doggy
style. Vaginanya yang dihiasi bulu-bulu keriting nampak sudah basah kuyup.
Kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya dengan pelan tapi pasti.
Fita merintih-rintih keras saat proses penetrasi berlangsung. Setelah masuk
seluruh penisku, kudiamkan beberapa saat untuk menikmati kehangatan yang
diberikan oleh jepitan vagina Fita. Hangat sekali, lebih hangat dari milik Ami.
Setelah itu kumulai menyodok Fita maju mundur.
Fita
memang berisik sekali! Saat kami melakukan sanggama, teriakan-teriakannya
terdengar kencang. Tapi aku suka juga mendengarnya. Kedua payudaranya
bergelantungan bergerak liar seiring dengan gerakan kami. Kupikir sayang kalau
tidak dimanfaatkan, maka kuraih saja kedua danging kenyal tersebut dan langsung
kuremas-remas sepuasnya. Nafsuku semakin memuncak, sehingga sodokanku semakin
kupercepat, membuat Fita semakin keras mengeluarkan suara.
“Aaahh… Aaahh… Gue keluaar… Aaah..” teriak Fita dengan lantang.
“Aaahh… Aaahh… Gue keluaar… Aaah..” teriak Fita dengan lantang.
Fita
terkulai lemas, sementara aku terus menyetubuhinya. Beberapa saat kemudian aku
merasa mulai mendekati puncak kepuasan.
“Fit… gue mau keluar nih…”
Fita langsung melepaskan kemaluannya dari kemaluanku, dan langsung mengulum kemaluanku sehingga akhirnya aku memuntahkan spermaku di dalam mulut Fita, yang ditelan oleh Fita sampai habis.
“Fit… gue mau keluar nih…”
Fita langsung melepaskan kemaluannya dari kemaluanku, dan langsung mengulum kemaluanku sehingga akhirnya aku memuntahkan spermaku di dalam mulut Fita, yang ditelan oleh Fita sampai habis.
Aku
berbaring, capek. Nikmat dan puas sekali rasanya. Ami berbaring di sisiku.
Payudaranya terasa lembut dan hangat menyentuh lengan kananku. Fita masih
membersihkan batang kemaluanku dengan mulutnya.
“Gimana Van? Puas?” Ami bertanya.
“Puas banget deh… Otak gue ringan banget rasanya.”
“Gue mandi dulu ya?” Fita memotong pembicaraan kami.
Lalu ia menuju kamar mandi.
“Gimana Van? Puas?” Ami bertanya.
“Puas banget deh… Otak gue ringan banget rasanya.”
“Gue mandi dulu ya?” Fita memotong pembicaraan kami.
Lalu ia menuju kamar mandi.
“Gue
begini juga karena gue lagi pengen kok. Joe udah dua minggu pergi. Nggak tau
baliknya kapan.” Ami menjelaskan.
“Nggak masalah kok. Gue juga emang lagi butuh sih. Lain kali juga gue nggak keberatan.”
“Huss! Sembarangan loe. Gue selingkuh cuma sekali-sekali aja, cuma pengen balas dendam ama Joe. Dia suka selingkuh juga sih! Beda kasusnya ama loe!”
Aku diam saja. Ami bangkit dari ranjang dan mengingatkanku.
“Udah hampir setengah delapan malem tuh. Nanti Fay bingung lho!”
“Nggak masalah kok. Gue juga emang lagi butuh sih. Lain kali juga gue nggak keberatan.”
“Huss! Sembarangan loe. Gue selingkuh cuma sekali-sekali aja, cuma pengen balas dendam ama Joe. Dia suka selingkuh juga sih! Beda kasusnya ama loe!”
Aku diam saja. Ami bangkit dari ranjang dan mengingatkanku.
“Udah hampir setengah delapan malem tuh. Nanti Fay bingung lho!”
Aku
jadi tersadar. Cepat-cepat kukenakan pakaianku, tanpa mandi terlebih dahulu.
Setelah pamit dengan Fita, Ami mengantarku kembali ke Citraland. Disana kami
berpisah, dan aku kembali ke rumah dengan mobilku. Di rumah, tentu saja Fay
menanyakan darimana saja aku sampai malam belum pulang. Kujawab saja aku habis
makan malam bersama teman.
“Yaa…
padahal Fay udah siapin makan malem.” Fay kelihatan kecewa.
Sebenarnya aku belum makan malam. Aku lapar.
“Ya udah, Ivan makan lagi aja deh… tapi Ivan mau mandi dulu.” kataku sambil mencium dahinya.
Fay kelihatan bingung, tapi tidak berkata apa-apa.
Sebenarnya aku belum makan malam. Aku lapar.
“Ya udah, Ivan makan lagi aja deh… tapi Ivan mau mandi dulu.” kataku sambil mencium dahinya.
Fay kelihatan bingung, tapi tidak berkata apa-apa.
TAMAT



0 komentar