Seorang
temanku, namanya Rudy Manoppo, dia menghubungiku di handphone. Dia lagi berada
di hotel Menteng di Jalan Gondangdia lama bersama dua orang ceweknya. Memang
dia pernah janji padaku mau mengenalkan pacarnya yang namanya Judith itu
padaku, dan sekarang dia memintaku datang untuk bertemu dengan mereka malam ini
di sana.
Dalam perjalanan ke sana aku teringat dengan seorang cewek yang
namanya Judith juga. Lengkapnya Judith Monica. Sudah setahun ini kami tidak
pernah bertemu lagi, tapi masih sering menghubungi via telepon, terakhir kali
aku menghubungi dia waktu ulang tahunnya tanggal 29 September, dan kukirimi dia
kado ulangtahun. Dia adalah orang yang pernah begitu kusayangi. Dalam hatiku
berharap semoga dia menjadi isteriku. Wajahnya mirip artis Dina Lorenza, tinggi
170 cm, kulitnya sawo matang. Pokoknya semua tentang dia ini oke punya lah.
Ibunya orang Jawa, sedangkan bapaknya dari Sulawesi selatan. Dia sendiri sejak
lahir sampai besar menetap di Jakarta bersama orangtuanya.
Dulunya
kami bekerja di satu perusahaan, Judith ini accountingnya kami di kantor,
sedangkan aku bekerja diatas kapal. Setiap pulang dari Jepang, sering kubawa
oleh-oleh untuk dia. Tetapi salah satu point yang sulit mempersatukan kami
adalah soal agama. Terakhir yang kutahu tentang Judith ini dia batal menikah
dengan cowoknya yang namanya Adhi itu.
Handphone-ku
berbunyi lagi, rupanya dari Rudy, mereka menyuruhku masuk ke dalam kamar 310,
disitu Rudy bersama dua orang ceweknya. Aku disuruh langsung saja masuk ke
kamar nanti begitu tiba di sana. Aku tiba di sana pukul sembilan tiga puluh
malam dan terus naik ke atas ke kamar 310. Seorang cewek membuka pintu buatku
dan cewek itu hanya bercelana dalam dan BH saja, dan aku langsung masuk.
Rupanya Rudy sedang main dengan salah seorang ceweknya itu, keduanya sama-sama
telanjang dan lagi seru-serunya berduel. Terdengar suaranya si cewek ini
mendesah dan mengerang kenikmatan, sementara Rudy mencium wajahnya dan
lehernya. Aku berpaling pada cewek yang satu lagi ini yang memandangku dengan
senyuman manis.
“Oom
Errol ya..?” tegurnya sambil duduk di atas tempat tidur yang berada di
sebelahnya.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Bodynya boleh juga nih cewek, hanya sedikit kurus dan imut-imut.
“Namanya siapa sich..?” tanyaku.
“Namaku Lina, Oom buka aja bajunya.”
Lalu aku pun berdiri dan membuka bajuku, dan kemudian menghampirinya di atas ranjang dan menyentuh punggungnya, sementara Lina ini terus saja menonton ke sebelah. Si cewek yang lagi ‘dimakan’ Rudy rupanya mencapai puncak orgasmenya sambil menggoyang pinggulnya liar sekali, menjerit dan mendesah, dan kemudian Rudy pun keluar. Asyik juga sekali-sekali menonton orang bersenggama seperti ini.
Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Bodynya boleh juga nih cewek, hanya sedikit kurus dan imut-imut.
“Namanya siapa sich..?” tanyaku.
“Namaku Lina, Oom buka aja bajunya.”
Lalu aku pun berdiri dan membuka bajuku, dan kemudian menghampirinya di atas ranjang dan menyentuh punggungnya, sementara Lina ini terus saja menonton ke sebelah. Si cewek yang lagi ‘dimakan’ Rudy rupanya mencapai puncak orgasmenya sambil menggoyang pinggulnya liar sekali, menjerit dan mendesah, dan kemudian Rudy pun keluar. Asyik juga sekali-sekali menonton orang bersenggama seperti ini.
Sementara
keduanya masih tergeletak lemas dan nafas tersengal-sengal, si Lina ini
berpaling kepadaku dan aku pun mengerti maksudnya, dan kami pun mulai bercumbu,
saling meraba dan berciuman penuh nafsu. Kini berbalik Ricky dan ceweknya itu
yang menonton aku dan Lina main. Secara kebetulan aku balik berpaling kepada
Ricky dan ceweknya itu, dan betapa kagetnya aku melihat siapa cewek yang
bersama Ricky itu. Masih sempat kulihat buah dadanya dan puting susunya sebelum
cepat-cepat dia menarik selimut menutupi badannya. Aku langsung jadi ‘down’ dan
bangun berdiri, dan menegur Ricky sambil memandang si cewek itu yang masih
terbaring. Dia pun nampaknya begitu kaget, untung saja Ricky tidak melihat
perubahan pada air wajahnya.
“Hi
Ricky.., sorry aku langsung main tancap nich.” kataku, Ricky hanya tertawa saja
padaku.
“Gimana Roll, oke punya?” tanya Ricky sambil melirik Lina yang masih terbaring di ranjang.
“Excellent..!” jawabku sambil berdiri di depannya tanpa sadar bahwa aku lagi telanjang bulat dan tegang.
“Roll, kenalkan ini cewekku yang kubilang si Judith itu,” ucap Ricky sambil tangannya berbalik memegang kepalanya Judith.
Segera aku menghampirinya dan mengulurkan tanganku yang disambut oleh cewek itu.
“Gimana Roll, oke punya?” tanya Ricky sambil melirik Lina yang masih terbaring di ranjang.
“Excellent..!” jawabku sambil berdiri di depannya tanpa sadar bahwa aku lagi telanjang bulat dan tegang.
“Roll, kenalkan ini cewekku yang kubilang si Judith itu,” ucap Ricky sambil tangannya berbalik memegang kepalanya Judith.
Segera aku menghampirinya dan mengulurkan tanganku yang disambut oleh cewek itu.
Kami
berjabat tangan, terasa dingin sekali tangannya, dan dia menengok ke tempat
lain, sementara aku menatapnya tajam. Untunglah Ricky tidak sadar akan
perubahan diantara aku dengan cewek ini. Lalu si Judith ini bangun sambil
melingkari tubuhnya dengan handuk, kemudian berjalan ke kamar mandi diiringi
oleh tatapan mataku, melihat betis kakinya yang panjang indah itu yang dulu selalu
kukagumi.
Tidak
sadar aku menarik nafas, terus Rudy mempersilakan aku dan Lina kembali
melanjutkan permainan yang tertunda itu. Kami kemudian melakukan foreplay
sebelum acara yang utama itu. Kulihat sekilas ke sebelah, Judith sudah balik
dari kamar mandi dan memperhatikan aku dan Lina yang sedang bertempur dengan
seru, Lina mengimbangiku tanpa terlalu berisik seperti Judith tadi. Lina
mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dan kusodok lubang vaginanya dengan
penuh semangat. Maklumlah, dua bulan di laut tidak pernah menyentuh wanita sama
sekali.
Sampai
akhirnya kami berdua pun sama-sama keluar, aduuh.. nikmatnyaa… Kuciumi buah
dada yang penuh keringat itu dan bibir-bibirnya yang tipis itu, kulitnya
benar-benar bersih mulus dan akhirnya kami terbaring membisu sambil terus
berpelukan mesrah dan tertidur. Waktu itu sudah jam dua belas tengah malam.
Ketika
aku terbangun, rupanya Lina tidak tidur, dia malah asyik memandangiku. Kulihat
ke sebelah, Rudy dan Judith masih terlelap, hanya selimutnya sudah tersingkap.
Rudy tidur sambil memeluk Judith dan keduanya masih telanjang bulat. Paha
Judith yang mulus sexy itu membuatku jadi terangsang kembali dan terus saja
memandangnya dari jauh.
“Dia
cantik ya..?” lalu Lina berbisik padaku, aku hanya mengangguk kepala.
“Cantik, sexy.. tapi milik banyak orang..” tambah Lina lagi.
“Dia temanmu kan..?”
“Kita satu fakultas dulu, dan sama-sama wisuda, setahu gua dia dulunya nggak suka main sama laki, tapi dia melayani tante-tante senang yang suka nyari mangsa di kampus.”
“Maksud kamu Judith itu lesbian..?”
“Yah gitu lah, tapi dia juga pacaran waktu itu, terakhir dulu gua dengar dia lama main ama orang cina dari Hongkong.”
“Cantik, sexy.. tapi milik banyak orang..” tambah Lina lagi.
“Dia temanmu kan..?”
“Kita satu fakultas dulu, dan sama-sama wisuda, setahu gua dia dulunya nggak suka main sama laki, tapi dia melayani tante-tante senang yang suka nyari mangsa di kampus.”
“Maksud kamu Judith itu lesbian..?”
“Yah gitu lah, tapi dia juga pacaran waktu itu, terakhir dulu gua dengar dia lama main ama orang cina dari Hongkong.”
“Bisa
jadi dia pernah lesbong, soalnya liat tuh puting susunya udah besar dan panjang
lagi, kayak ibu-ibu yang pernah menyusui.” kataku.
“Pak Rudy ini cuman salah satu dari koleksinya, dia juga suka main ama orang bule dari Italy, terus dia juga ada main sama Pak XXX (orang penting).”
“Lina kok tau semuanya..?”
“Soalnya gua sering jalan bareng dia, kalo dia dapat order sering dia bagi-bagi ama gua, orangnya paling baik juga sosial ama temen.” sambung Lina lagi.
Sementara Lina tidak tahu kalau aku dan Judith juga sudah lama kenal.
“Pak Rudy ini cuman salah satu dari koleksinya, dia juga suka main ama orang bule dari Italy, terus dia juga ada main sama Pak XXX (orang penting).”
“Lina kok tau semuanya..?”
“Soalnya gua sering jalan bareng dia, kalo dia dapat order sering dia bagi-bagi ama gua, orangnya paling baik juga sosial ama temen.” sambung Lina lagi.
Sementara Lina tidak tahu kalau aku dan Judith juga sudah lama kenal.
Tiba-tiba
Judith menggerakkan badannya membuat bagian perutnya yang tadinya terselimut
kini terbuka, gerakannya itu membangunkan Rudy yang melihat buah dadanya begitu
menantang langsung mulutnya beraksi, dari buah dada Judith turun terus ke bawah
membuka lebar pahanya Judith dan menjilati bibir vaginanya. Aku langsung bangun
dan menghampiri ranjang keduanya dan memperhatikan dari dekat Rudy menjilati
bibir kemaluan Judith dan menguakkannya. Nampak lubang kemaluan Judith yang
memerah terbuka cukup besar. Sementara bulu kemaluannya kelihatan seperti
dicukur bersih, licin seperti vagina seorang bayi.
Melihatku
memperhatikannya dengan serius, Rudy lalu bertanya.
“Kamu suka Roll..? Kita tukaran aja sekarang, aku ama Lina.”
Lalu Rudy bangun dan pindah ke ranjang sebelah, dan aku segera menggantikan tempat Rudy tadi, tapi betapa terkoyaknya hatiku saat itu. Benar-benar tidak pernah kukira akan mengalami pertemuan kembali yang begini dengan Judith. Aku berbaring sambil mendekap tubuhnya pelan-pelan, seolah takut jangan sampai dia terbangun. Mulutku melahap buah dadanya, menghisap puting susunya yang besar dan panjang itu, tanganku pelan turun ke bawah mengusap selangkangannya, terus memegang vaginanya sambil mencium pipinya, mengulum bibir-bibirnya. Judith mendesah dan menguap sambil menggerakkan badannya, tapi tidak bangun. Aku pun terus melanjutkan aksiku.
“Kamu suka Roll..? Kita tukaran aja sekarang, aku ama Lina.”
Lalu Rudy bangun dan pindah ke ranjang sebelah, dan aku segera menggantikan tempat Rudy tadi, tapi betapa terkoyaknya hatiku saat itu. Benar-benar tidak pernah kukira akan mengalami pertemuan kembali yang begini dengan Judith. Aku berbaring sambil mendekap tubuhnya pelan-pelan, seolah takut jangan sampai dia terbangun. Mulutku melahap buah dadanya, menghisap puting susunya yang besar dan panjang itu, tanganku pelan turun ke bawah mengusap selangkangannya, terus memegang vaginanya sambil mencium pipinya, mengulum bibir-bibirnya. Judith mendesah dan menguap sambil menggerakkan badannya, tapi tidak bangun. Aku pun terus melanjutkan aksiku.
Ketika
dia berbalik tertelungkup, segera kupegang pantatnya dan menguakkannya.
Nampaklah lubang duburnya yang sudah terbuka itu, merah kehitam-hitaman,
kira-kira berdiameter satu senti. Tapi betapa hatiku begitu penuh kasih
padanya, pelan-pelan lidahku menjulur ke lubang pantatnya itu dan kujilati
pelan-pelan. Tiba-tiba Judith menggerakkan pantatnya, rupanya terasa olehnya
sesuatu yang nikmat di pantatnya. Aku terus saja menjilatinya, lalu dia
merintih dan menarik napas panjang dan mendesah.
“Aduuhh..
enak Rudy, terus Sayang.. lidahnya terus mainkan.., duuh.. enaakk..!” desahnya
pelansambil semakin kuat menggoyangkan pantatnya, sementara rudalku sudah
tegang sekali.
“Rudy.., jellynya.. jellynya dulu.. baru masukin yaa..!”
Aku tidak tahu dimana jellynya, lalu kuludahi saja banyak-banyak sampai lubang duburnya itu penuh dengan ludahku dan kuarahkan rudalku ke arah sasarannya, dan mulai menyentak masuk pelan-pelan.
“Aaacchh..!” dia mendesah.
“Rudy.., jellynya.. jellynya dulu.. baru masukin yaa..!”
Aku tidak tahu dimana jellynya, lalu kuludahi saja banyak-banyak sampai lubang duburnya itu penuh dengan ludahku dan kuarahkan rudalku ke arah sasarannya, dan mulai menyentak masuk pelan-pelan.
“Aaacchh..!” dia mendesah.
Sekali
hentak langsung masuk tanpa halangan, kudorong terus rudalku, tangan kananku
melingkari lehernya. Dia menarik napas panjang sambil mendesah tertahan,
sementara rudalku sudah semuanya masuk tertanam dalam liang pelepasannya yang
cengkeramannya sudah tidak terasa lagi. Tangan kiriku memainkan klitorisnya,
sambil mencium pipinya kemudian melumat bibirnya. Berarti Judith ini sudah
biasa disodomi orang, hanya lubangnya belum terbuka terlalu besar. Aku mulai
menarik keluar kembali dan memasukkan lagi, dan mulai melakukan gerakan piston
pelan-pelan pada awalnya, sebab takut nanti Judithnya kesakitan kalau aku
langsung main hajar dengan kasar.
Aku
tahu bila dalam keadaan normal seperti biasa, tidak akan pernah aku dapat
menyentuh tubuhnya ini. Selagi aku mengulum lidahnya itu, Judith membuka
matanya, terbangun dan kaget melihat siapa yang lagi menyetubuhinya. Judith mau
bergerak bereaksi tapi kudekap dia kuat-kuat hingga Judith tidak mungkin dapat
bergerak lagi, dan aku mulai menghentak dengan kekuatan penuh pada lubang
duburnya yang memang sudah dol itu.
Batang
rudalku masuk semua tertancap di dalam lubang duburnya dan masuk keluar dengan
bebasnya menghajar lubang dubur Judith dengan tembakan-tembakan gencar beruntun
sambil mendekapnya kuat-kuat dari belakang meremas payudaranya dengan gemasnya
dan mengigit tengkuknya yang sudah basah oleh keringatnya itu. Secara reflex
Judith mengoyang pinggulnya begitu merasakan batang kemaluanku masuk, dan
mendesah mengerang dengan suara tertahan. Keringat deras bercucuran di pagi
yang dingin itu. Seperti kuda yang sedang balapan seru, dia merintih lirih
diantara desahan napasnya itu dan mengerang. Judith semakin menggoyang
pantatnya seperti kesetanan oleh nikmat yang abnormal itu.
Sepuluh
menit berlalu, lubang duburnya Judith rasanya sangat licin sekali, seperti main
di vagina saja. Dan Judith meracau mendesah dan menjerit histeris, wajahnya
penuh keringat yang meleleh. Kubalikkan tubuhnya, kini Judith sudah tidak
melawan lagi, dia hanya tergeletak diam pasrah ketika kualasi bantal di bawah
pantatnya. Dia mengangkat kedua kakinya yang direntangkan dan memasukkan lagi
rudalku ke dalam lubang duburnya yang sudah terkuak itu. Seluruh batang rudalku
basah oleh cairan kuning yang berbuih, itu kotorannya Judith yang separuhnya
keluar meleleh dari lubang duburnya itu. Bagi orang yang tidak biasa dengan
anal sex ini pasti akan merasa jijik.
Kini
wajah kami berhadapan, kupegang kepalanya supaya dia tidak dapat berpaling ke
kiri ke kanan. Dan kulumat-lumat bibir-bibirnya, sepasang gunung buahdadanya
terguncang-guncang dengan hebatnya, lehernya dan dadanya basah oleh keringatnya
yang bercampur baur dengan keringatku. Dan inilah yang namanya kenikmatan
surga. Pipi-pipinya telah memerah saga oleh kepanasan. Aku semakin keras lagi
menggenjot ketika mengetahui kalau Judith mau mencapai puncak klimaksnya. Seluruh
tubuhnya lalu jadi mengejang, dan suaranya tertahan di ujung hidungnya, Judith
ini benar-benar histeris pikirku. Mungkin juga dia ini sex maniac.
Judith
mulai bergerak lagi dengan napas yang masih tersengal-sengal sambil mendesah.
“Terus ung.. teeeruus.. aku mau keluar lagi..!” desahnya.
Benar saja, Judith kembali menjerit histeris seperti kuntilanak, seluruh tubuhnya kembali mengejang sambil wajahnya menyeringai seperti orang menahan sakit yang luar biasa. Butiran keringatnya jatuh sebesar biji jagung membasahi wajahnya, peluh kami sudah bercampuran. Kupeluk erat-erat tubuhnya yang licin mengkilap oleh keringat itu sambil menggigit-gigit pelan daun telinganya agar dia tambah terangsang lagi.
“Terus ung.. teeeruus.. aku mau keluar lagi..!” desahnya.
Benar saja, Judith kembali menjerit histeris seperti kuntilanak, seluruh tubuhnya kembali mengejang sambil wajahnya menyeringai seperti orang menahan sakit yang luar biasa. Butiran keringatnya jatuh sebesar biji jagung membasahi wajahnya, peluh kami sudah bercampuran. Kupeluk erat-erat tubuhnya yang licin mengkilap oleh keringat itu sambil menggigit-gigit pelan daun telinganya agar dia tambah terangsang lagi.
Akhirnya
dia jatuh lemas terkulai tidak berdaya seperti orang mati saja. Tinggal aku
yang masih terus berpacu sendiri menuju garis finish. Kubalikkan lagi tubuh
Judith tengkurap dan mengangkat pantatnya, tapi tubuhnya jatuh kembali
tertelungkup saja, entah apa dia sangat kehabisan tenaga atau memang dia tidak
mau main doggy style. Kuganjal lagi bantal di bawah perutnya dan mulai
menhajarnya lagi, menindihnya dari atas punggungnya yang basah itu. Tapi
keringatnya tetap berbau harum. Napasnya memburu dengan cepatnya seperti
seorang pelari.
“Aduh..
aduuh.. aku mau beol.. nich.. cepeet dikeluarin.. nggak tahan nich..! Ituku
udah mo keluar nich..!” desahnya.
Dadanya bergerak turun naik dengan cepatnya. Tapi aku tidak perduli, soalnya lagi keenakan, kutanamkan kuat-kuat batang kemaluanku ke dalam lubang pantatnya, dan menyemprotkan spermaku begitu banyaknya ke dalam lubang analnya itu.
“Aduh.. aduuh.., aku mau beol.. nich.. cepeet nggak tahan nich.., udah mo keluar nich..!” desahnya.
“Aaacchhh.. aach..!” Judith menjerit lagi.
Dadanya bergerak turun naik dengan cepatnya. Tapi aku tidak perduli, soalnya lagi keenakan, kutanamkan kuat-kuat batang kemaluanku ke dalam lubang pantatnya, dan menyemprotkan spermaku begitu banyaknya ke dalam lubang analnya itu.
“Aduh.. aduuh.., aku mau beol.. nich.. cepeet nggak tahan nich.., udah mo keluar nich..!” desahnya.
“Aaacchhh.. aach..!” Judith menjerit lagi.
Ada dua
menit baru kucabut batang kemaluanku. Dan apa yang terjadi, benar saja
kotorannya Judith ikut keluar bersama rudalku, dan menghambur padaku. Terasa
hangat kotorannya yang mencret itu. Hal itu juga berhamburan pada seprei tempat
tidur. Praktis kami berenang di atas kotoran tinjanya yang keluarnya banyak
sekali itu. Sementara aku lagi menikmati orgasmeku, kudengar suaranya Judith
seperti orang yang sedang sekarat, dan napasnya mendengus. Anehnya aku sama
sekali tidak merasa jijik, walaupun aku dengan sudah belepotan oleh tinjanya.
Kami
tetap saja berbaring diam sambil terus berpelukan. Napasnya masih
tersengal-sengal. Dadanya bergerak naik turun seperti orang yang benar-benar
kecapaian. Kucium pipinya yang basah oleh keringatnya, dan menjilati keringat
di lehernya yang putih mulus itu. Batinku terasa puas sekali dapat mencicipi
tubuh indah ini, walaupun dia ini hanya seorang pelacur saja. Judith pun tetap
berbaring diam tidak bergerak walaupun semua bagian bawah tubuhnya sudah
berlumuran oleh tinjanya. Dia sepertinya sudah seperti pasrah saja atas semua
yang sedang terjadi pada dirinya. Bola matanya menatap kosong ke dinding kamar.
Aku membalikkan kepalanya agar menatapku, terus kuhisap bibirnya pelan dan
mencium di jidatnya. Tampak senyum di wajahnya, dia seperti senang dengan
sikapku ini. Dia menatapku dengan wajah sayu dan letih.
“I love
you Judith..” ucapku tanpa sadar.
Dia hanya mendengus, menggerakan hidungnya yang mancung itu sambil bola matanya yang hitam bening itu menatapku tajam. Kucium lagi pipinya.
“Judith.., dari dulu aku tetap cinta kamu..” bisikku di telinganya.
“Walaupun harus hidup dengan berlumuran tinja seperti ini..?” jawabnya seperti menyindirku.
“Kita mesti keluar dari kubangan tinja ini Judith..,” kataku, “Kita bersihkan tubuh kita dan kita memulai hidup kita yang baru.”
Dia tidak menjawab, malah mendorongku ke samping dan dia melompat bangun bergegas menuju kamar mandi diiringi suara ketawa dari Rudy dan Lani.
Dia hanya mendengus, menggerakan hidungnya yang mancung itu sambil bola matanya yang hitam bening itu menatapku tajam. Kucium lagi pipinya.
“Judith.., dari dulu aku tetap cinta kamu..” bisikku di telinganya.
“Walaupun harus hidup dengan berlumuran tinja seperti ini..?” jawabnya seperti menyindirku.
“Kita mesti keluar dari kubangan tinja ini Judith..,” kataku, “Kita bersihkan tubuh kita dan kita memulai hidup kita yang baru.”
Dia tidak menjawab, malah mendorongku ke samping dan dia melompat bangun bergegas menuju kamar mandi diiringi suara ketawa dari Rudy dan Lani.
Sisa-sisa
kotoran di bokong pantatnya itu mengalir turun di paha dan betis kakinya dan
ruangan itu telah dipenuhi oleh bau kotoran yang keluar dari dalam perutnya
Judith ini. Aku pun berlari ke kamar mandi dan membantu Judith membersihkan
badannya dengan air dan bantu dia menyirami tubuhnya dan menyabuni seluruh
tubuhnya sampai ke selangkang dan kemaluannya terus sampai pada lubang
pantatnya semua kusabuni dan kubilas sampai benar-benar bersih. Barulah
kemudian aku mandi. Judith nampaknya senang dengan perlakuanku yang
mengistimewakan dirinya itu, dan dia pun membantuku mengelap badanku dengan
handuk.
Kemudian
kami kembali ke kamar, aku menarik keluar seprei yang telah penuh dengan
kotoran itu, membungkusnya dan melemparnya ke kamar mandi. Judith duduk di
kursi mengawasiku bekerja sambil senyum-senyum malu. Aku menatap tubuhnya yang
tinggi atletis ini dengan penuh rasa pesona dan syukur. Namun sama sekali tidak
kusanga bahwa nanti dalam waktu yang tidak lama lagi dia akan menjadi isteriku.
Dan sedikitpun aku tidak menyesal memperisteri Judith, sekalipun dia itu
hanyalah seorang bekas wanita nakal, bekas ayam kampus.
Kami
kembali lagi ke atas tempat tidur dan berusaha untuk tidur, padahal hari sudah
pagi. Kami tidur berpelukan. Dia menyembunyikan kepalanya di dalam dadaku yang
sedang bergemuruh dengan hebatnya itu, dan kami terlelap dalam tidur. Aku hanya
dapat tertidur beberapa saat saja, kemudian sudah terbangun lagi, di sampingku
Judith masih tertidur lelap, mungkin sebab saking capeknya dia ini. Pelan aku
bangun untuk duduk sambil memperhatikan dia dalam ketidurannya, di bibirnya
tersungging senyum, sepertinya dia merasa bahagia dalam hidup ini. Rambutnya
yang lebat hitam panjang itu tergerai di atas bantal.
Pelan
kusingkap kakinya hingga terbuka lebar, dan tanganku mengusap pahanya yang
ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Benar-benar merangsangku paha mulus yang bersih
ini. Menguakkan bibir vaginanya yang telah ke biru-biruan itu pertanda bahwa
dia telah banyak sekali melakukan persetubuhan. Dan kulihat lubang vaginanya
yang telah terbuka menganga seperti lubang terowongan turun ke dalam rahimnya.
Lalu kujulurkan lidahku untuk membuka vaginanya itu dengan penuh perasaan.
Kujilati juga klitorisnya, membuatnya jadi tergerak mungkin oleh rasa enak di
klitorisnya itu. Tapi hanya sampai disitu saja. Aku tidak tega untuk
membangunkannya dari kelelapan tidurnya yang manis itu.
Siangnya
kami checked out dari Hotmen itu. Dalam mobil aku dan Judith duduk di belakang.
Dia tidak pernah berbicara sampai kami tiba di depan rumahnya Lina di Tebet
timur, keduanya turun di sini, padahal Judith rumahnya di jalan Kalibata utara.
Setelah
berlalu dari situ, aku bertanya kepada Rudy kenapa tidak membayar keduanya.
Rudy bilang biasanya uangnya itu di transfer ke rekening keduanya
masing-masing. Dan esoknya hari Senin aku mentransfer uang ke rekening Judith
sebesar lima ratus ribu rupiah. Kenangan manis yang tidak terlupakan bagiku.
TAMAT



0 komentar