Sebuah kisah
nyata ngentot adik sepupu, merenggut keperawanan adik sepupu.
Kakak dan adik sepupu terlibat hubungan seks terlarang yang mana keduanya
saling memberikan kenikmatan satu sama lain. Cerita ini terjadi pada tahun
1997. Ini merupakan ceritaku nyata. Pada saat aku masih kuliah di semester 2,
ibuku sakit dan dirawat di kota S. Oh, iya aku tinggal di kota L. Cukup jauh
sih dari kota S. Karena ibuku sakit, sehingga tidak ada yang masak dan menunggu
dagangan. Soalnya adik-adikku semua masih sekolah. Akhirnya aku usul kepada
ibuku kalau sepupuku yang ada di kota lain menginap di sini (di rumahku). Dan
ide itu pun disetujui. Maka datanglah sepupuku tadi.
Sepupuku
(selanjutnya aku panggil Anita) orangnya sih tidak terlalu cantik, tingginya
sekitar 160 cm, dadanya masih kecil (tidak nampak montok seperti sekarang).
Tetapi dia itu akrab sekali dengan aku. Aku dianggapnya seperti kakak sendiri.
Nah
kejadiannya itu waktu aku lagi liburan semester. Waktu liburan itu aku banyak
menghabiskan waktu untuk menunggu dagangan ibuku. Otomatis dong aku banyak
menghabiskan waktu dengan Anita. Mula-mulanya sih biasa-biasa saja, layaknya
hubungan kami sebagai sepupu. Suatu malam, kami (aku, Anita, dan adik-adikku)
sudah ingin tidur. Adikku masing-masing tidur di kamarnya masing-masing. Sedang
aku yang suka menonton TV, memilih tidur di depan TV. Nah, ketika sedang
menonton TV, datang Anita dan nonton bersamaku, rupanya Anita belum tidur juga.
Sambil
nonton, kami berdua bercerita mengenai segala hal yang bisa kami ceritakan,
tentang diri kami masing-masing dan teman-teman kami. Nah, ketika kami sedang
nonton TV, dimana film di TV ada adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan
(sorry udah lupa tuh judul filmnya).
Eh,
Anita itu merespon dan bicara padaku, “Wah temenku sih biasa begituan
(ciuman).”
Terus aku jawab, “Eh.. Kok tau..?”
Terus aku jawab, “Eh.. Kok tau..?”
Rupanya
teman Anita yang pacaran itu suka cerita ke Anita kalau dia waktu pacaran
pernah ciuman bahkan sampai ‘anu’ teman Anita itu sering dimasuki jari
pacarnya. Tidak tanggung-tanggung, bahkan sampai dua jarinya masuk.
Setelah
kukomentari lebih lanjut, aku menebak bahwa Anita nih ingin juga kali. Terus
aku bertanya padanya, “Eh, kamu mau juga nggak..?”
Tanpa kuduga, ternyata dia mau. Wah kebetulan nih.
Dia bahkan bertanya, “Sakit nggak sih..?”
Ya kujawab saja, “Ya nggak tahu lah, wong belum pernah… Gimana.., mau nggak..?”
Anita berkata, “Iya deh, tapi pelan-pelan ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, ‘anunya’ jadi sakit.”
“Iya deh..!”, jawabku.
Tanpa kuduga, ternyata dia mau. Wah kebetulan nih.
Dia bahkan bertanya, “Sakit nggak sih..?”
Ya kujawab saja, “Ya nggak tahu lah, wong belum pernah… Gimana.., mau nggak..?”
Anita berkata, “Iya deh, tapi pelan-pelan ya..? Kata temenku kalo jarinya masuk dengan kasar, ‘anunya’ jadi sakit.”
“Iya deh..!”, jawabku.
Kami
berdua masih terus menonton film di TV. Waktu itu kami tiduran di lantai.
Kudekati dia dan langsung tanganku menuju selangkangannya (to the point
bok..!). Kuselusupkan tangan kananku ke dalam CD-nya dan kuelus-elus dengan
lembutnya. Anita tidak menolak, bahkan dengan sengaja merebahkan tubuhnya, dan
kakinya agak diselonjorkan. Saat merabanya, aku seperti memegang pembalut, dan
setelah kutanyakan ternyata memang sejak lima hari lalu dia sedang menstruasi.
Aku
tidak mencoba membuka pakaian maupun CD-nya, maklumlah takut kalau ketahuan
sama adik-adikku. Dengan CD masih melekat di tubuhnya, kuraba daerah di atas
kemaluannya. Kurasakan bulu kemaluannya masih lembut, tapi sudah agak banyak
seperti bulu-bulu yang ada di tanganku. Kuraba terus dengan lembut, tapi belum
sampai menyentuh ‘anunya’, dan terdengar suara desisan walau tidak keras.
Kemudian kurasakan sekarang dia berusaha mengangkat pantatnya agar jari-jariku
segera menyentuh kemaluannya. Segera kupenuhi keinginannya itu.
Waktu
pertama kusentuh kemaluannya, dia terjengat dan mendesis. Kugosok-gosok bibir
kewanitaannya sekitar lima menit, dan akhirnya kumasukkan jari tengahku ke
liang senggamanya.
“Auw..,” begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku.
Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, “Eeessshhh..”, desisnya.
Lalu kutanya, “Gimana..? Sakit..?”
Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku.
“Auw..,” begitu reaksinya setelah jariku masuk setengahnya dan tangannya memegangi tanganku.
Setelah itu dengan pelan kukeluarkan jariku, “Eeessshhh..”, desisnya.
Lalu kutanya, “Gimana..? Sakit..?”
Dia menggeleng dan tanpa kusadari tangannya kini memegang telapak tangan kananku (yang berada di dalam CD-nya), seakan memberi komando kepadaku untuk meneruskan kerjaku.
Sambil
terus kukeluar-masukkan jariku, Anita juga tampak meram serta mendesis-desis
keenakan. Sementara terasa di dalam CD-ku, batang kemaluanku juga bangun, tapi
aku belum berani untuk meminta Anita memegang rudalku (padahal aku sudah ingin
sekali). Sekitar 10 menit peristiwa itu terjadi. Kulihat dia tambah keras
desisannya dan kedua kakinya dirapatkan ke kaki kiriku. Sepertinya dia telah
mengalami klimaks, dan kami akhirnya tidur di kamar masing-masing.
Hari
berikutnya, aku dan Anita siap-siap membuka warung, adikku pada berangkat
sekolah, sehingga hanya ada aku dan Anita di warung. Hari itu Anita jadi lebih
berani padaku. Di dalam warungku sambil duduk dia berani memegang tanganku dan
menuntunnya untuk memegang kemaluannya. Waktu itu dia memakai hem dan rok di
atas lutut, hingga aku langsung bisa memegang selangkangannya yang terhalang CD
dan pembalut. Kaget juga aku, soalnya ini kan lagi ada di warung.
“Nggak pa-pa Mas.., khan lagi sepi”, katanya dengan enteng seakan mengerti yang kupikirkan.
“Lha kalo ada pembeli gimana nanti..?”, tanyaku.
“Ya udahan dulu, baru setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?”, jawabnya.
“Nggak pa-pa Mas.., khan lagi sepi”, katanya dengan enteng seakan mengerti yang kupikirkan.
“Lha kalo ada pembeli gimana nanti..?”, tanyaku.
“Ya udahan dulu, baru setelah pembelinya balik, kita lanjutin lagi, ok..?”, jawabnya.
Dengan
terpaksa kuraba-raba selangkangannya. Hal tersebut kulakukan sambil mengawasi
di luar warung kalau-kalau nanti ada pembeli datang. Sementara aku mengelus
selangkangannya, Anita mencengkeram pahaku sambil bibirnya digigit pelan tanda
menikmati balaianku. Peristiwa itu kuakui sangat membuatku terangsang sekali,
sehingga celana pendekku langsung terlihat menonjol yang bertanda batang
kejantananku ingin berontak.
“Lho
Mas, anunya Mas kok ngaceng..?”, katanya.
Ternyata dia melihatku, kujawab, “Iya ini sih tandanya aku masih normal…”
Aku terus melanjuntukan pekerjaanku. Tanpa kusadari dia pun mengelus-elus celanaku, tepat di bagian batang kemaluanku. Kadang dia juga menggenggam kemaluanku sehingga aku juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba aku melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku.
Kubisiki dia, “Heh ada orang tuh..! Stop dulu ya..?”
Ternyata dia melihatku, kujawab, “Iya ini sih tandanya aku masih normal…”
Aku terus melanjuntukan pekerjaanku. Tanpa kusadari dia pun mengelus-elus celanaku, tepat di bagian batang kemaluanku. Kadang dia juga menggenggam kemaluanku sehingga aku juga merasa keenakan. Baru mau kumasukkan tanganku ke CD-nya, tiba-tiba aku melihat di kejauhan ada anak yang sepertinya mau membeli sesuatu di warungku.
Kubisiki dia, “Heh ada orang tuh..! Stop dulu ya..?”
Aku
menghentikan elusanku, dia berdiri dan berjalan ke depan warung. Benar saja,
untung kami segera menghentikan kegiatan kami, kalo tidak, wah bisa berabe
nanti. Sehabis melayani anak itu, dia balik lagi duduk di sebelahku dan kami
memulai lagi kegiatan kami yang terhenti. Seharian kami melakukannya, tapi aku
tidak membuka CD-nya, karena terlalu beresiko. Jadi kami seharian hanya saling
mengelus di bagian luar saja.
Malam
harinya kami melakukan lagi. Aku sendirian nonton TV, sementara adikku semua
sudah tidur. Tiba-tiba dia mendatangiku dan ikut tiduran di lantai, di dekatku
sambil nonton TV. Kemudian tiba-tiba dia memegang tanganku dan dituntun ke
selangkangannya. Aku yang langsung diperlakukan demikian merasa mengerti dan
langsung aku masuk ke dalam CD-nya, dan langsung memasukkan jariku ke
kemaluannya. Sedangkan dia juga langsung memegang batang kejantananku.
“Aku
copot ya CD kamu, biar lebih enakan”, kataku.
Dia mengangguk dan aku langsung mencopot CD-nya. Saat itu dia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah aku mencopotnya dan langsung tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku, sehingga dia kini bisa melihat rudalku dengan jelas, dan dia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya dia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh dia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena dia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih.
Dia mengangguk dan aku langsung mencopot CD-nya. Saat itu dia memakai rok mininya yang tadi, sehingga dengan mudah aku mencopotnya dan langsung tanganku mengorek-ngorek lembah kewanitaannya dengan jari telunjukku. Aku juga menyuruh mengeluarkan batang kejantananku dari CD-ku, sehingga dia kini bisa melihat rudalku dengan jelas, dan dia kusuruh untuk menggenggamnya. Kukorek-korek kemaluannya, kukeluar-masukkan jariku, tampaknya dia sangat menikmatinya. Kulihat batang kemaluanku hanya digenggamnya saja, maka kusuruh dia untuk mengocoknya pelan-pelan, namun karena dia tidak melumasi dulu batangku, maka kemaluanku jadi agak sakit, tapi enak juga sih.
“Eehhhsssttt…
Eehhhsssttt… Ouw.., eehhhsssttt… Eehhhsssttt… Eehhhssstt..”
Begitu erangannya saat kukeluar-masukkan jariku.
Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan dia mendesis lebih keras, aku suruh dia agar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun.
“Kocokkannya lebih pelan dong..!”, kataku yang merasa kocokkannya terhenti.
Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan dia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan dia lagi menggauli jariku.
Dan akhirnya, “Oh.., oohhh.. Oohhh.. Ohhh..” Rupanya dia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku.
Begitu erangannya saat kukeluar-masukkan jariku.
Kumasukkan jariku lebih dalam lagi ke liang kewanitaannya dan dia mendesis lebih keras, aku suruh dia agar jangan keras-keras, takut nanti adikku terbangun.
“Kocokkannya lebih pelan dong..!”, kataku yang merasa kocokkannya terhenti.
Kupercepat gerakan jariku di dalam liangnya, kurasakan dia mengimbanginya dengan menggerakkan pantatnya ke depan dan ke belakang, seakan dia lagi menggauli jariku.
Dan akhirnya, “Oh.., oohhh.. Oohhh.. Ohhh..” Rupanya dia mencapai klimaksnya yang pertama, sambil kakinya mengapit dengan keras kaki kananku.
Kucabut
jariku dari kemaluannya, kulihat masih ada noda merah di jariku. Karena aku
belum puas, aku langsung pergi ke kamar mandi dan kutuntun Anita. Di kamar
mandi aku minta dia untuk mengocok batang kejantananku dengan tangannya. Dia
mau. Aku lepaskan celanaku, setelah itu CD-ku dan batang kejantananku langsung
berdiri tegap. Kusuruh dia mengambil sabun dan melumuri tangannya dengan sabun
itu, lalu kusuruh untuk segera mengocoknya. Karena belum terbiasa, sering
tangannya keluar dari batangku, terus kusuruh agar tangannya waktu mengocok itu
jangan sampai lepas dari batangku. Setelah lima menit, akhirnya aku klimaks
juga, dan kusuruh menghentikan kocokannya.
Seperti
pagi hari sebelumnya, kami mengulangi perbuatan itu lagi. Tidak ada yang dapat
kuceritakan kejadian pagi itu karena hampir sama dengan yang terjadi di pagi
hari sebelumnya. Tapi pada malam harinya, seperti biasa, aku sendirian nonton
TV. Anita datang, sambil tiduran dia nonton TV. Tapi aku yakin tujuannya bukan
untuk nonton, dia sepertia ketagihan dengan perlakuanku padanya. Dia langsung
menuntun tanganku ke selangkangannya. Aku bisa menyentuh kewanitaannya, tapi
ada yang lain. Kini dia tidak memakai pembalut lagi.
“Eh, kamu udah selesai mens-nya..?”, tanyaku.
“Iya, tadi sore khan aku udah kramas, masa nggak tau..?”, katanya.
“Eh, kamu udah selesai mens-nya..?”, tanyaku.
“Iya, tadi sore khan aku udah kramas, masa nggak tau..?”, katanya.
Aku memang
tidak tahu. Karena memang aku kurang peduli dengan hal-hal seperti itu. Aku
jadi membayangkan yang jorok, wah batang kejantananku bisa masuk nich.
Kuraba-raba CD-nya. Tepat di lubang kemaluannya, aku agak menusukkan jariku,
dan dia tampak mendesis perlahan. Tangannya kini sudah membuka restleting
celana pendekku, selanjutnya membukanya, dan CD-ku juga dilepaskankan ke bawah
sebatas lutut. Digenggamnya batang kejantananku tanpa sungkan lagi (karena
sudah sering kali ya..?). Aku juga membuka CD-nya, tapi karena dia masih
memakai rok mini lagi, jadi tidak ketahuan kalau dia sekarang bugil di bagian
bawahnya. Dia kini dalam keadaan mengangkang dengan kaki agak ditekuk. Kuraba
bibir kemaluannya dan dengan agak keras, kumasukkan seluruh jari telunjukku ke
lubang senggamanya.
“Uhhh..
Essshhh.. Eessshhh.. Essshhh..”, begitu desisnya waktu kukeluar-masukkan jariku
ke lubang senggamanya.
Sementara dia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek-korek lubang kemaluannya. Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, aku khan belum melihat langsung bentuk kemaluan wanita dari dekat. Paling-paling dari film xxx yang pernah kutonton. Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Anita, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga aku dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, aku berusaha membuka bibir kemaluannya.
Sementara dia kini juga berusaha mengocok batang keperkasaanku, tapi terasa masih sakit. Kukorek-korek lubang kemaluannya. Lalu timbul keinginanku untuk melihat kemaluannya dari dekat. Maklumlah, aku khan belum melihat langsung bentuk kemaluan wanita dari dekat. Paling-paling dari film xxx yang pernah kutonton. Kuubah posisiku, kakiku kini kuletakkan di samping kepala Anita, sedangkan kepalaku berada di depan kemaluannya, sehingga aku dengan leluasa dapat melihat liang kewanitaannya. Dengan kedua tanganku, aku berusaha membuka bibir kemaluannya.
Tapi,
“Auw.. Diapaain Mas..? Eshhh.. Uuhhh.”, desisannya tambah mengeras.
“Sorry.., sakit ya..? Aku mo lihat bentuk anumu nih, wah bagus juga yach..!”, sambil terus kukocokkan jariku.
Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak.
“Wah, jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kamu genggam itu ya..?”, pancingku.
Dia diam saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat dia memaju-mundurkan pantatnya.
“Eh, sebenarnya yang enak ini mananya sich..?”, tanyaku.
Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya.
“Sorry.., sakit ya..? Aku mo lihat bentuk anumu nih, wah bagus juga yach..!”, sambil terus kukocokkan jariku.
Kulihat daging di lubangnya itu berwarna merah muda dan terlihat bergerak-gerak.
“Wah, jariku aja susah kalo masuk kesini, apalagi anuku yang kamu genggam itu ya..?”, pancingku.
Dia diam saja tidak merespon, mungkin lagi menikmati kocokan jariku karena kulihat dia memaju-mundurkan pantatnya.
“Eh, sebenarnya yang enak ini mananya sich..?”, tanyaku.
Tangan kirinya menunjuk sepotong daging kecil di atas lubang kemaluannya.
“Ini
nich.., kalo Mas kocokkan jarinya pas menyentuh ini rasanya kok gatel-gatel
tapi enak gitu.”
“Mana.., mana.., oh ini ya..?”, kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui bernama klitoris) dan dia makin kuat menggenggam batang kemaluanku.
“Ahhh. Auu.. Enakkkk Maaasss… Eeehhh… Aaahhh.. Truusss Masss, terusiinn.. Ohhh..!”
Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan aku terus menggosok benda itu.
Dan akhirnya, “Uhh.. Uhhh.. Uuhhh.. Ahhh.. Aahhh.”, dia mencapai klimaks.
“Mana.., mana.., oh ini ya..?”, kugosok daging itu (yang kemudian kuketahui bernama klitoris) dan dia makin kuat menggenggam batang kemaluanku.
“Ahhh. Auu.. Enakkkk Maaasss… Eeehhh… Aaahhh.. Truusss Masss, terusiinn.. Ohhh..!”
Tangannya setengah tenaga ingin menahan tanganku, tapi setengahnya lagi ingin membiarkan aku terus menggosok benda itu.
Dan akhirnya, “Uhh.. Uhhh.. Uuhhh.. Ahhh.. Aahhh.”, dia mencapai klimaks.
Aku
terus menggosoknya, dan tubuhnya terus menggelinjang seperti cacing kepanasan.
Lalu kubertanya, “Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini…? Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!”
Dia hanya mengangguk pelan dan aku segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga dia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, dia sudah mendesis-desis.
Lalu kubertanya, “Eh, gimana kalo anuku coba masuk ke sini…? Boleh nggak..? Pasti lebih enakan..!”
Dia hanya mengangguk pelan dan aku segera merubah posisiku menjadi tidur miring sejajar dengan dia. Kugerakkan batang kejantananku menuju ke lubang kemaluannya. Kucoba memasukkan, tapi rasanya tidak bisa masuk. Kurubah posisiku sehingga dia kini berada di bawahku. Kucoba masukkan lagi batangku ke lubangnya. Terasa kepala anuku saja yang masuk, dia sudah mendesis-desis.
Kudorong
lebih dalam lagi, tangannya berusaha menghentikan gerakanku dengan memegang
batangku. Namun rasanya nafsu lebih mendominasi daripada nalarku, sehingga aku
tidak mempedulikan erangannya lagi.
Kutekan lagi dan, “Auuuwww.. Ehhssaaakkkiittt..!”
Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku diam sejenak dan bernapas. Terasa anunya memeras batangku dengan keras.
“Gimana, sakit ya.., mo diterusin nggak..?”, tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya.
Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar seperti orang menjerit, tapi tanpa suara.
Kutekan lagi dan, “Auuuwww.. Ehhssaaakkkiittt..!”
Aku berhasil memasukkan batang anuku walau tidak seluruhnya. Aku diam sejenak dan bernapas. Terasa anunya memeras batangku dengan keras.
“Gimana, sakit ya.., mo diterusin nggak..?”, tanyaku padanya sambil tanganku memegang pantatnya.
Dia tidak menjawab, hanya terdengar desah nafasnya. Kugerakkan lagi untuk masuk lebih dalam. Mulutnya membuka lebar seperti orang menjerit, tapi tanpa suara.
Karena
dia tetap diam, maka kulanjuntukan dengan mengeluarkan batangku. Dan lagi-lagi
dia seperti menjerit tapi tanpa suara. Saat kukeluarkan, kulihat ada noda darah
di batangku. Aku jadi kaget, “Wah aku memperawaninya nih.”
“Gimana.., sakit nggak.., kalo nggak lanjut ya..?”, tanyaku.
“Uhhh.. Tadi sakiiittt sich… Uhhh. Geeelii.” Begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan.
“Gimana.., sakit nggak.., kalo nggak lanjut ya..?”, tanyaku.
“Uhhh.. Tadi sakiiittt sich… Uhhh. Geeelii.” Begitu katanya waktu anuku kugesek-gesekkan.
Setelah
itu kumajukan lagi batang kejantananku, Anita tampak menutup matanya sambil
berusaha menikmatinya. Baru kali ini batangku masuk ke liangnya wanita, wah
rasanya sungguh nikmat. Aku belum mengerti, kenapa kok di film-film yang
kulihat, batang kejantanan si pria begitu mudahnya keluar masuk ke liang
senggama wanita, tapi aku disini kok sulit sekali untuk menggerakkan batang
kejantananku di liang keperawanannya. Namun setelah beberapa menit hal itu berlangsung,
sepertinya anuku sudah lancar keluar masuk di anunya, maka agak kupercepat
gerakan maju-mundurku di liangnya. Kurubah posisiku hingga kini dia berada di
bawahku. Sambil masih kugerakkan batangku, tanganku berusaha mencapai buah
dadanya. Kuremas-remas buah dadanya yang masih kecil itu bergantian, lalu
kukecup puting buah dadanya dengan muluntuku.
Dia
semakin bergelinjang sambil mendesis agak keras. Akhirnya setelah berjalan
kurang lebih 10 menitan, kaki Anita berada di pantatku dan menekan dengan keras
pantatku. Kurasa dia sudah orangasme, karena cengkeraman bibir kemaluannya
terhadap anuku bertambah kuat juga. Dan karena aku tidak tahan dengan
cengkeraman bibir kemaluannya, akhirnya, “Crot.. Crot.. Crot..”, air maniku
tumpah di vaginanya. Serasa aku puas dan juga letih. Kami berdua bersimbah
keringat. Lalu segera kutuntun dia menuju kamar mandi dan kusuruh dia untuk
membersihkan liang kewanitaannya, sedangkan aku mencuci senjataku. Setelah itu
kami kembali ke tempat semula.
Kulihat
tidak ada noda darah di karpet tempat kami melakukan kejadian itu. Dan untung
adik-adikku tidak bangun, sebab menuruntuku desisan dan suara dia agak keras.
Lalu kumatikan TV-nya, dan kami berdua tidur di kamar masing-masing.
Sebelum tidur aku sempat berfikir, “Wah, aku telah memperawani sepupuku sendiri nich..!”
Sebelum tidur aku sempat berfikir, “Wah, aku telah memperawani sepupuku sendiri nich..!”
Sewaktu
aku sudah kuliah lagi (dua hari setelah kejadian itu), dia masih suka
menelponku dan bercerita bahwa kejadian malam itu sangat diingatnya dan dia
ingin mengulanginya lagi. Aku jadi berpikir, wah gawat kalo gini. Aku jadi
ingat bahwa waktu itu aku keluarkan maniku di dalam liang keperawanannya.
“Wah, bisa hamil nich anak..!”, pikirku.
Hari-hariku jadi tidak tenang, karena kalau ketahuan dia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon dia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata dia dapat mens-nya lagi dua hari yang lalu. Lega aku dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula.
“Wah, bisa hamil nich anak..!”, pikirku.
Hari-hariku jadi tidak tenang, karena kalau ketahuan dia hamil dan yang menghamili itu aku, bisa mampus aku. Setelah sebulan lewat, kutelpon dia di rumahnya. Setelah kutanya, ternyata dia dapat mens-nya lagi dua hari yang lalu. Lega aku dan sekarang hari-hariku jadi balik ke semula.
Begitulah
ceritaku saat menggauli sepupu sendiri, tapi dasar memang sepupuku yang agak
“horny”. Tapi sampai saat ini kami tidak pernah melakukan perbuatan itu lagi.



0 komentar