Sebuah
kisah seks cukup gila, seorang pria bersetubuh dengan neneknya dan juga
tantenya sendiri. Aku Andy. Beberapa waktu lalu aku pernah bercerita tentang
nenek Elsa yang cantik (istri dari adik kakekku). Setelah membuat affair dengan
nenekku, aku juga merasakan kenikmatan adik dan sepupu nenek. Salah satunya
dengan Tante Wine, usianya 38 tahun. Sekarang aku mau berbagi cerita nyata
tentang affairku dengan Tante Wine ini.
*****
Sejak
tinggal dirumah nenek, aku bener-bener dimanja soal sex, juga soal duit. Sampai
suatu ketika rumah nenek kedatangan tamu dari Manado, namanya Tante Wine.
Menurut nenek Tante Wine ini tinggalnya di desa jadi agak kolot gitu. Tapi pas
pertama dikenalkan, aku tidak melihat wajah desa dari Tante Wine. Raut muka
yang cantik (nggak berbeda jauh dengan nenek Elsa) dengan postur yang semampai
lagipula putih bersih membuat orang tidak mengira kalau Tante Wine adalah
wanita desa. Satu-satunya yang bisa meyakinkan kalau Tante Wine orang desa
adalah logat bahasanya yang bener-bener medok.
Akupun
langsung akrab dengan Tante Wine karena orangnya lucu dan suka humor. Bahkan
aku sering ngeledek karena dialeknya yang ngampung itu. Wajahnya keliatan agak
Indo dengan tinggi kutaksir 162 cm. Pinggangnya langsing, lebih langsing dari
nenek Elsa, dan yang bikin pikiran kacau adalah buah dadanya yang lumayan gede.
Aku nggak tau persis ukurannya tapi cukup besar untuk menyembul dari balik
daster.
Pikiran
kotorku mulai bermain dan mengira-ngira. Apakah Tante Wine haus sex seperti
kakaknya? Kalau kakaknya mau kenapa adiknya nggak dicoba? Akan merupakan sebuah
pengalaman sex yang seru kalo aku bisa menidurinya. Pikiran-pikiran seperti itu
berkecamuk dibenak kotorku. Apalagi dengan bisanya aku tidur dengan nenekku,
(dan banyak wanita STW) rasanya semua wanita yang umurnya diatas 35 kuanggap
akan lebih mudah ditiduri, hanya dengan sedikit pujian dan rayuan.
Dirumah,
nenek Elsa sudah beberapa kali wanti-wanti padaku jangan sampe aku perlakukan
Tante Wine sama sepertinya, rupanya Elsa cemburu karena ngeliat kemingkinan itu
ada. Sampai suatu ketika nenek sedang pergi dengan kakek ke Surabaya selama dua
hari. Sehari sebelum berangkat aku sempat melampiaskan nafsuku bersama Elsa di
sebuah motel deket rumah, biar aman. Disana sekali lagi nenek Elsa wanti-wanti.
Aku mengiyakan, aku bersusaha meyakinkan.
Setelah
nenek dan kakek berangkat aku mulai menyusun rencana. Dirumah tinggal aku,
Tante Wine dan seorang pembantu. Hari pertama niatku belom berhasil. Bebeapa
kali aku menggoda Tante Wine dengan cerita-cerita menjuurus porno tapi Tante
nggak bergeming. Saking nggak tahan nafsu ingin menyetubuhi Tante Wine,
malamnya aku coba mengintip saat dia mandi. Dibelakang kamar mandi aku
meletakkan kursi dan berencana mengintip dari lubang ventilasi.
Hari
mulai malam ketika Tante Wine masuk kamar mandi, aku memutar kebelakang dan
mulai melihat aktifitas seorang wanita cantik didalam kamar mandi. Perlahan
kulihat Tante Wine menanggalkan daster merah jambunya dan menggantungkan di
gantungan. Ups! Ternyata Tante Wine tidak memakai apa-apa lagi dibalik daster
tadi. Putih mulus yang kuidam0idamkan kini terhampar jelas dibalik lubang
fentilasi. Pertama Tante Wine membasuk wajahnya. Sejenak dia bengong dan
tiba-tiba tangannya mengelus-elus lehernya, lama. Perlahan tangan itu mulai
merambah buah dadanya yang besar. Aku berdebar, lututku gemetaran melihat
adegan sensual didalam kamar mandi. Jemari Tante Wine menjeljah setiap jengkal
tubuhnya yang indah dan berhenti diselangkangannya. Badan Tante Wine bergetar
dan dengan mata mengatup dia sedikit mengerang ohh! Dan tubuhnya kelihatan
melemas. Dia orgasme. Begitu cepatkah? Karena Mr. Happy-ku juga sudah
menggeliat-geliat, aku menuntaskan nafsuku dibelakang kamar mandi dengan mata
masih memandang ke dalam. Nggak sadar aku juga mengerang dan spermaku terbang
jauh melayang.
Dalam
beberapa detik aku memejamkan mata menahan sensasi kenikmatan. Ketika kubuka
mata, wajah cantik Tante Wine sedang mendongak menatapku. Wah ketahuan nih.
Belum sempat aku bereaksi ingin kabur, dari dalam kamar mandi Tante Wine
memanggilku lirih.
“Andy,
nggak baik mengintip,” kata tante Wine.
“Ma ma
maafin,” jawabku gagap.
“Nggak
apa-apa, dari pada disitu mendingan..,” kata Tante Wine lagi sambil tangannya
melambai dan menunjuk arah ke dalam kamar mandi.
Aku
paham maksudnya, dia memintaku masuk kedalam. Tanpa hitungan ketiga aku
langsung loncat dan berlari memutar kedalam rumah dan sekejab aku sudah stand
by di depan pintu kamar mandi. Smataku sedikit melongok sekeliling takut
ketahuan pembantu. Hampir bersamaan pintu kamar mandi terbuka dan aku bergegas
masuk. Kulihat Tante Wine melilitkan handuk ditubuhnya. Tapi karena handuknya
agak kecil maka paha mulusnya jelas terlihat, putih dan sangat menggairahkan.
“Kamu
pake ngitip aku segala,” ujar Tante Wine.
“Aku
kan nggak enak kalo mau ngomong langsung, bisa-bisa aku di tampar, hahaha,”
balasku.
Tante
Wine memandangku tajam dan dia kemudian menerkam mulutku. Dengan busanya dia
mencumbuku. Bibir, leher, tengkuk dan dadaku nggak lepas dari sapuan lidah dan
bibirnya. Melihat aksi ini nggak ada rasa kalo Tante Wine tuh orang desa.
Ternyata keahlian nge-sex itu tak memandang desa atau kota ya.
Sekali
sentak kutarik handuknya dan wow! Pemandangan indah yang tadi masih jauh dari
jangkauan kini bener-bener dekat, bahkat menempel ditubuhku. Dalam posisi masih
berdiri kemudian Tante Wine membungkuk dan melahap Mr. happy yang sudah tegak
kembali. Lama aku dihisapnya, nikat sekali rasanya. Tante Wine lebih rakus dari
nenek Elsa. Atau mungkin disinilah letak ‘kampungan’nya, liar dan buas. Bebrapa
detik kemudian setelah puas mengisapku, tante Wine mengambil duduk dibibir bak
mandi dan menarik wajahku. Kutau maksudnya. Segera kusibakkan rambut indah
diselangkangannya dan bibir merah labia mayora menantangku untuk dijilat.
Jilatanku kemudian membuat Tante Wine menggelepar. Erangan demi erangan keluar
dari mulut Tante Wine.
“Andi
kamu hebat, pantesan si Elsa puas selalu,” cerocos Tante Wine.
“Emangnya
Tante Wine tau?” jawabku disela aktifitas menjilat.
“Ya
nenekmu itu cerita. Dan sebelum ke Surabaya dia wanti-wanti jangan menggodaku,
dia cemburu tuh,” balas Tante Wine.
Ups,
rupanya rahasiaku sudah terbongkar. Kuangkat wajahku, lidahku menjalar menyapu
setiap jengkal kulit putih mulus Tante Wine.
“Sedari
awal aku sudah tau kamu mengintip, tapi kubiarkan saja, bahkan kusengaja aja
tadi pura-pura orgasme untuk memancingmu, padahal sih aku belum keluar tadi,
heheh kamu tertipu ya, tapi Ndy, sekarang masukin yuk, aku bener-bener nggak
tahan mau keluar,” kata Tante Wine lagi.
Aku
sedikit malu juga ketahuan mengintip tadi.
Masih
dalam posisi jongkok di bibir bak mandi, kuarahkan Mr. happy ke vaginanya.
Tante Wine mengerang dan merem melek setiap kuenjot dengan batang kemaluanku
yang sudah besar dan memerah. Lama kami bertarung dalam posisi ini, sesekali
dia menarik tubuhku biar lebih dalam. Setelah puas dengan sensasi ini kami coba
ganti posisi. Kali ini dalam posisi dua-duanya berdiri, kaki kanannya diangkat
dan diletakkan diatas toilet. Agak sedikit menyamping kuarahkan Mr. Happy ke
vaginanya. Dengan posisi ini kerasa banget gigitan vaginanya ketiga kuenjot
keluar masuk. Kami berpelukan dan berciuman sementara Mr. Happy masih tetep
aktif keluar masuk.
Puas
dengan gaya itu kami coba mengganti posisi. Kali ini doggie style. Sambil
membungkuk, tante Wine menopangkan tangan di bak mandi dan dari belakangnya
kumasukkan kemaluanku. Uhh terasa nikmatnya karena batang Mr. Happy seakan
dijepit dengan daging yang kenyal. Kutepuk tepuk pantatnya yang mulus dan
berisi. Tante Wine mendesis-desis seperti kepedesan. Lama kami mengeksplorasi
gaya ini.
Dalam
beberapa menit kemudian Tante Wine memintaku untuk tiduran di lantai kamar
mandi. Walaupun agak enggan, kulakuin juga maunya, tapi aku tidak bener-bener
tiduran karena punggungku kusenderkan didinding sementara kakiku selonjoran.
Dan dalam posisi begitu aku disergapnya dengan kaki mengangkangi tubuhku. Dan
perlahan tangan kanannya memegang Mr. Happy, sedikit dikocoknya dan diarahkan
ke vagina yang sudah membengkak. Sedetik kemudian dia sudah naik turun diatas
tubuhku. Rupanya Tante Wine sangat menikmati posisi ini. Buktinya matanya
terpejam dan desisannya menguat.
Lama
kubiarkan dia menikmati gaya ini. Sesekali kucium bibirnya dan kumainkan pentil
buah dadanya. Dia mengerang nikmat. Dan sejenak tiba-tiba raut mukanya berubah
rona.
Dia meringis, mengerang dan berteriak.
“Ndy, aku mau nyampe nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya,” erangnya.
Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliat-geliat panas sekali.
“Ohh,” ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.
Dia meringis, mengerang dan berteriak.
“Ndy, aku mau nyampe nih, oh, oh, oh, ah, ah nikmatnya,” erangnya.
Tangannya meraih tubuhku dan aku dipeluknya erat. Tubuhnya menggeliat-geliat panas sekali.
“Ohh,” ditingkah erangan itu, kemudian tubuhnya melemah dipangkuanku.
Dalam
hatiku curang juga nih Tante, masak aku dibiarkan tidak tuntas. Masih dalam
posisi lemas, tubuhnya kutelentangkan di lantai kamar mandi tanpa mencabut mr
happy dari vaginanya. Dan perlahan mulai kuenjot lagi. Dia mengerang lagi
mendapatkan sensasi susulan. Uh tante Wine memang dahsyat, baru sebentar
lunglai sekarang sudah galak lagi. Pinggulnya sudah bisa mengikuti alur irama
goyanganku. Lama kami menikmati alunan irama seperti itu, kini giliranku mau sampai.
“Tante aku mau keluarin ya”, kataku menahan gejolak, bergetar suaraku.
“Sama-sama ya Ndy, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh”.
Dibalik erangannya, akupun melolong seperti megap-megap. Sejurus kemudian kami sudah berpelukan lemas dilantai kamar mandi. Persetan dengan lantai ini, bersih atau nggak, emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak dan ketika sadar aku segera mengangkat tubuh Tante Wine dan kamipun mandi bersama.
“Tante aku mau keluarin ya”, kataku menahan gejolak, bergetar suaraku.
“Sama-sama ya Ndy, aku mau lagi nih, ayo, yok keluarin, yok, ahh”.
Dibalik erangannya, akupun melolong seperti megap-megap. Sejurus kemudian kami sudah berpelukan lemas dilantai kamar mandi. Persetan dengan lantai ini, bersih atau nggak, emangnya gue pikirin. Kayaknya aku tertidur sejenak dan ketika sadar aku segera mengangkat tubuh Tante Wine dan kamipun mandi bersama.
Selesai
mandi, kami bingung gimana harus keluar dari kamar mandi. Takut Bi Ijah tau.
Kubiarkan Tante Wine yang keluar duluan, setelah aman aku menyusul kemudian.
Namun bukannya kami kekamar masing-masing, Tante Wine langsung menysul ke
kamarku setelah mengenakan daster. Aku yang masih telanjang di kamarku langsung
disergapnya lagi. Dan kami melanjutkan babak babak berikutnya. Malam itu kami
habiskan dengan penuh nafsu membara. Kuhitung ada sekitar 7 kali kami keluar
bersama. Aku sendiri heran kenapa aku bisa orgasme sebanyak itu. Walaupun di
ronde-ronde terakhir spermaku sudah tidak keluar lagi, tapi rasa puas karena
multi orgasme tetap jadi sensasi.
Selama
2 hari nenek Elsa di Surabaya, aku habiskan segala kemampuan sexualku dengan
Tante Wine. Sejak kejadian itu masih ada sebulan tante Wine tinggal dirumah
nenek Elsa. Selama itu pula aku kucing-kucingan bermain cinta. Aku harus
melayani nenek Elsa dan juga bermain cinta dengan Tante Wine. Semua pengalaman
itu nyata kualami. Aku nggak merasa capek harus melayani dua wanita STW yang
dua-duanya punya nafsu tinggi karena aku juga menikmatinya.



0 komentar