sebuah kisah ngentot yang
menggairahkan. Suntuk! Satu kata yang membawaku melarikan motor kesayanganku
membelah dinginnya malam bulan Agustus, menuju ke pusat keramaian kota
Yogyakarta, Maliboro. Terus terang fikiranku kacau, wanita yang aku sayangi
sore tadi pergi tanpa pamit bersama temannya ke luar kota. Padahal sudah lima
hari ini tak diberinya jatah sex, dengan alasan sedang ujian tengah semester.
Mau meledak rasanya kepala ini, harus kusalurkan nafsu ini bila tak ingin uring-uringan
terus. Terbayang di benak semua rencana tuk malam ini memberi kepuasan dirinya
dan pelampiasan nafsuku, sebutir obat kuat telah kusiapkan disaku calana. SIAL!
makiku dalam hati…
Warung
itu terlihat sepi. Sebetulnya bukan warung, lebih mirip gerobak dorong makanan
yang terparkir di pinggir jalan seberang toko Ramai Malioboro. Kuparkir motor
di depan gerobak makanan itu, kupesan segelas jahe tape untuk mengusir
dinginnya malam. Kulirik jam baru setengan sembilan malam, tinggal setengah
jam lagi bubaran toko-toko sepanjang Malioboro, dimana pelayan-pelayan toko berhamburan keluar toko untuk pulang. Kuraih rokok di saku jaket yang tinggal tiga batang, kunyalakan dan kuhisap kuat sambil kuhembuskan keras ke udara. Dinginnya malam tak cukup untuk mendinginkan hati ini, terlebih dalam calanaku yang menginginkan jatah. Fikiranku melayang mencari cara memenuhi hasrat ini.
jam lagi bubaran toko-toko sepanjang Malioboro, dimana pelayan-pelayan toko berhamburan keluar toko untuk pulang. Kuraih rokok di saku jaket yang tinggal tiga batang, kunyalakan dan kuhisap kuat sambil kuhembuskan keras ke udara. Dinginnya malam tak cukup untuk mendinginkan hati ini, terlebih dalam calanaku yang menginginkan jatah. Fikiranku melayang mencari cara memenuhi hasrat ini.
Waktu
pun berjalan, fikiranku terus berkecamuk, terdengar suara wanita memesan
segelas teh hangat di sampingku. Kugeser letak dudukku, kulirik dia, hmm
lumayan juga nih cewek. “Permisi mas numpang duduk” sapanya. “Oh monggo,
silahkan-silahkan” jawabku memberi tempat kepadanya. “Kok belum pulang mbak?”
tanyaku membuka percakapan. “Iya mas, tunggu jemputan, tapi kok belum kelihatan
ya” jawabnya sambil menengok kiri dan kanan. “Biasanya dah jemput dari tadi lho
mas” tambahnya. Tiba-tiba Hp di tas wanita itu berbunyi, kulihat dia menjawab
telepon itu, kuperhatikan wajahnya. Alamak! wajah itu tertekuk marah, menambah
manis wajah ayunya. “Kurang ajar” katanya sambil menutup pembicaraan
teleponnya. “Kenapa mbak, kok marah-marah?” tanyaku padanya. “Dasar cowok gak
tahu di untung, minggat sana sama gendaknya” maki dirinya kepada cowok di
telepon tadi. Tiba-tiba dia menelungkupkan wajah ayunya ke atas meja sambil
menangis. Wah kacau nih, pikirku. “Sudahlah mbak, nggak usah dipikirin,
laki-laki emang begitu” rayuku sambil tak kusadari bahwa aku juga laki-laki
yang mungkin lebih berengsek dari cowoknya tadi.
“Gimana
kalau saya saja yang mengantar embak?” kutawari diriku untuk mengantar. Wanita
itu menengadah, terlihat air mata yang masih mengalir dari kedua boal matanya.
Oh My God, ayu tenan gumam hatiku, wajahnya itu lho lucu, imut, kasihan diterpa
cahaya lampu tempel di meja gerobak dagangan makanan. “Mas nggak papa? Nanti
ada yang marah? tanyanya sambil menatap lekat padaku. “Kita senasib kok mbak,
Anton” kataku memperkenalkan diri sambil meraih tangannya menuju motor. Setelah
kubayar minuman kita, kuulurkan helm kepadanya. Motor kustarter, dia duduk dibelakangku.
“Aku Ika mas. Senasib bagaimana sih mas?” tanyanya padaku. “Aku juga ditinggal
cewekku sore tadi, dia pergi sama teman-temannya tanpa pamit padaku” jawabku.
“Tinggalmu di daerah mana mbak?” tanyaku. “Apa” tanyanya sambil mendekatkan
kepalanya ke samping kepalaku, seerrr… payudara yang bulat kencang, sekarang
nempel merapat di punggungku, terjadilah pemberontakan di dalam celana dalamku.
Sial… aku lupa mencukur bulu bawahku, sekarang terasa perih menggigit terdesak
pisang ambonku yang perlahan serta pasti mengeras. “Kenapa mas?” tanyanya
sekali lagi padaku. Wajah gadis itu di sebelah kanan agak kebelakang arah
wajahku, kutengok ke samping kanan, persis yang kuduga sebelumnya, begitu
menengok, kucium lembut dan menyentuh pipi serta sedikit mulutnya, “iiiihhh,
nakal ya masnya ini” katanya sambil mencubit pinggangku. Haa haa haa… “Kostmu
daerah mana adik manis?” tanyaku menahan perih di pinggang akibat cubitannya.
“Enggak tau, aku lagi males pulang” cemberutnya sambil terus mencubit
pinggangku. Kuhentikan motorku di tepi jalan. “Kok berhenti mas?” tanyanya.
“Habis kamu nyubit terus dan gak di lepas-lepas sih… nanti gimana jalan
motornya?” candaku. “Habis masnya juga genit sih, pake ngesun segala” ujarnya.
“Nah gitu dong, jangan sedih terus, ntar ilang lho manisnya” kataku
cengengesen. “Tu kan… mulai lagi” ketusnya sambil bersiap untuk mencubit
pinggangku lagi. Kutangkap tangan lembut itu, kugenggam mesra sambil bertanya
“Trus kita mau ke mana cah ayu?” Ditundukkannya wajahnya “Terserah mas aja lah.
pokoknya aku males pulang ke kostan”. “Ya oke deh, kita nikmatin malam ini
berdua aja ya” jawabku. “He eh” sambutnya sambil melendot manja, ah dasar
wanita dirayu sedikit, keluar deh manjanya. Kulaju motorku ke arah selatan
Yogya. Namanya rejeki gak lari ke mana, sorak hatiku.
Sampailah
kita di daerah pantai Parang Tritis, angin laut selatan menyambut kita disertai
dinginnya musim kemarau bulan Agustus. Kulepas jaketku dan kukenakan kepadanya
yang hanya berkaus ketat berlengan pendek. Kuparkir motor di atas pasir pesisir
pantai, kurengkuh bahunya untuk duduk di pasir, dia diam saja, pandangan jauh
menatap kelamnya lautan. “Kenapa, kok ngelamun” tanyaku. “Tauk nih, kita kan
baru beberapa jam lalu kenalan, kok udah akrab ya” jawabnya. “Emang kenapa?
nggak boleh? Aku suka dari pandangan pertama tuh” kataku ngawur. “Iiiiih,
ngawur lagi deh” sergahnya sambil mulai mencubitku lagi. Sebelum tangan itu
sampai, aku bangkit berlari menghindar, terjadilah kejar-kejaran diantara kami,
sampai suatu saat kakiku tersandung lobang dan jatuh. Karena jarak kami tidak
terlalu jauh, dia pun ikut terjatuh, sebelum sempat kusadari, reflek tanganku
meraih tubuhnya, berpelukanlah kami berdua. Dia terdiam, akupun menahan nafas,
perlahan kusorongkan wajahku mendekati wajahnya, kucium lembut bibirnya, ia pun
membalas sambil memejamkan matanya, kami berdua terhanyut, melayang tinggi
dengan latar belakang deburan ombak pantai selatan.
Malampun
semakin larut, kami memutuskan untuk menginap di salah satu losmen yang berada
i sekitar pantai. “Kok kamu mau menginap dengan cowok yang baru kamu kenal sih”
bisikku ketelinganya. “Habis mas baik sih, mau nemenin Ika yang lagi sebel”
katanya manja. Kuraih wajahnya, kepagut bibir mungil Ika, kami berdua berciuman
mesra. Tangan kananku memeluk pinggang, tangan kiriku bergerilya masuk ke dalam
kaus Ika. Cumbuan kualihkan ke leher jenjang Ika, dia mendesis dipeluknya
tubuhku. “Sss…mass… enaaakk” erang Ika. Tangan kiriku berusaha masuk melalui
bra yang agak ketat, sedang tangan kananku berusaha membuka kaitan bra di
punggung Ika. “Mas Ann… ton… Ika lee.. messs nih… sambil tiduran yuk…?”
pintanya. Kurebahkan diri Ika ke atas ranjang, kumainkan kedua belah payudara
Ika, Ika terpejam kembali dengan mengerang perlahan… sss… sss… yang keras mas
remasnya… sss…
Kubungkukkan
bandan, mendekat ke arah payudara Ika, ku kulum puting sebelah kiri sementara
tangan kananku meremas sebelah kanan. Tangan ika menjambak rambutku… Sss…
enaaakk… masssss… hisap yang kuat sayang… Jilatanku kuteruskan menelusuri
sampai ke pusar, kumainkan lidahku di lubang pusar Ika. Malam kian larut,
deburan ombak terdengar sampai ke dalam kamar losmen, seakan musik mengiringi
deru nafas memburu kami berdua. Kupandangi tubuh Ika, kuusap mesra wajahnya,
Ika memandangku pasrah, kubelai perutnya dengan tangan kanan, terus turun
hingga ke celana panjang Ika. Kubuka kancing celana Ika, kuturunkan resluiting
dan kubelai dengan punggung tanganku.
“Mas
Anton… jangan siksa Ika dong… cepet copot baju dan celana mas juga” pinta Ika
seperti memelas. “Sebentar sayang, mas mau buang air kecil dulu ya” kataku
sambil berlalu ke kamar mandi. Aku mencopot baju dan celanaku serta celana
dalamku sambil mengelus penisku “sabar ya sayang, nanti kukenalkan pasanganmu”
kataku bergumam senang. Ika terpekik tertahan melihat kondisiku yang bugil,
sambil menutup mulutnya. “Mas Anton… kok gede banget penisnya? kira-kira muat
gak ya unya saya?” tanyanya. “Kamu masih perawan Ka?” tanyaku mendekatinya.
“Udah enggak sih… cuman dah lama gak kemasukan, apalagi segede punya emas?”
jawabnya senyum dikulum. “Ya udah nikmatin dulu deh punya emas ini ya” kataku
sembari menyodorkan penisku ke wajahnya. Ikapun bangkit dan menyentuh penisku
sembari dijilatinya, kemudian memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya,
terlihat sesak tatkala dia memasukkan batangku.
Aku
tersenyum melihatnya terbelalak-belalak. “Cape nih mas mulut Ika, pegel!”
protesnya. “Ya udah, sekarang giliran emas mau cium vegi Ika ya” kataku
meredakan protes Ika. Kemudia Ika kembali tiduran sembari mengangkangkan kedua
pahanya, kudekatkan kepalaku di selangkangan Ika yang memang luar biasa
bersihnya kemaluan ika dengan rambut sedikit dirapikannya, kumulai mengulum
kemaluan Ika. Kedua tangan Ika menjambak rambut di kepalaku. “Achhh… terus
masss… yesss… gigit masss…” erang Ika seperti cacing kepanasan. Gila aja cowok
goblok itu, barang sebagus ini disia-siakan bathinku berkata sembari terus
menjilat dan sesekali kumasukkan lidahku kedalam liang vegi Ika. “Maasss…
aaakkkuu… nyammpeee…!” jerit Ika sembari menekan kepalaku ke dalam vaginanya.
Tubuh Ika bergetar hebat, dari lubang kemaluan Ika keluar lendir orgasme yang
lansung tak kusia-siakan untuk menyedotnya ternyata gurih sekali cairan orgasme
Ika. Setelah beberapa saat Ika tergolek lemas seperti tak bertenaga, kudekati
Ika dan berbaring di sisinya, kukecup keningnya dan kubelai rambut Ika, “Gimana
rasanya sayang?” tanyaku. Ika tak menjawab, hanya tatapan sendu serta senyuman
Ika yang mewakili sejuta kata-kata yang mewakili dirinya mencapai puncak
kenikmatan.
Kemudian
aku bangkit, melumuri penisku dengan air ludah, agak kuangkat Ika untuk agak
menepi dari ranjang. Perlahan aku arahkan penisku ke tengah selangkangan Ika.
“Pelan-pelan ya mas…” pinta Ika memohon. Pertama ku sibak bibir vagina Ika,
kemudian kutempelkan kepala helm penisku di tengah vaginanya, perlahan-lahan
kudorong masuk ke dalam. Dengan orgasmenya Ika tadi, seolah telah siap untuk
menerima kedatangan penisku, tetapi tetap saja agak sempit.
Kulihat
Ika agak meringis, “Kenapa Ka?, sakit ya?” tanyaku. “Sedikit mas, tapi gak pa pa
kok, Ika tahan”. Aku gak mau buru-buru, sedikit demi sedikit kukeluar masukkan
batang penisku ke dalam vagina Ika. Setelah masuk setengah, kudiamkan sejenak
untuk memberi waktu vagina Ika menyesuaikan dengan batang penisku, kulihat Ika
menatapku, “Kenapa berhenti mas? aku dah mulai merasa enak kok rasanya” kata
Ika sedikit protes atas perbuatanku. Memang aku penjahat kelamin, kata
teman-temanku, sebetulnya aku sendiri gak setuju karena menurut diriku sendiri
aku adalah penyayang kelamin, gak mau asal aja make love dan wanita merasa
sakit, karena prinsipku hubungan sex itu adalah kepuasan antara dua insan
berlainan jenis.
Setelah
kulihat Ika sudah terbiasa dengan penisku, mulailah kumaju mundurkan senjataku
tersebut, sambil melirik Ika. Ternyata Ikapun sudah menikmati keluar masuknya
penisku di vaginanya. Sekitar lima menit kemudian Ika kontraksi, rupanya dia
sudah mau mencapai orgasme lagi. Massssss…akkkuuu… nyammmppeee… erangnya sambil
memeluk erat tubuh serta menjepit keras pinggulku. Aku imbangi orgasme Ika
dengan menancapkan batang penisku dalam-dalam.
“Gimana
sayang?” tanyaku. “Waduh mas luar biasa deh” jawabnya sambil terengah-engah.
Kemudian Ika aku suruh telentang di atas rajang, kemudian aku naik di atas
tubuh Ika, kujilati sekitar payudara Ika yang memang sudah basah oleh
keringatnya. Kemudian kusuruh kedua tangan Ika untuk menjepit kedua
payudaranya, setelah itu batang penisku aku tusukkan di tengah jepitan
payudaranya. Ika tersenyum paham dengan perbuatanku dan bertanya “Kenapa gak
dikeluarin di dalam vagina Ika aja mass?” tanyanya. “Enggaklah, nanti kamu
hamil lagi” jawabku. Ikapun tersenyum manis. Kukocok kemaluanku di jepitan
payudara Ika, tak berapa lama terasa ada sesuatu yang akan meledak dari ujung
kemaluanku, Ika menengadah ke arah payudaranya, “Kaaa… masss mau sammmpe juga
nihhh…” erangku. Kulihat Ika membuka mulutnya, seolah mau menampung muncratan
orgasme ku. Melihat hal itu buru-buru ku copot penisku dari jepitan payudara
Ika dan kumasukkan ke mulut Ika, disambutnya penisku dan di kulumnya.
Meledaklah semua spermaku di mulut Ika sampai tetes mani terakhir. “Enak kok
mas, gurih… Ika seneng sama sperma emas?” kata Ika sambil tersenyum. Akupun
seperti habis berlari berpuluh-puluh meter, nafasku tersengal tetapi senyumku
masih bisa kupaksakan untuk Ika. Kupeluk tubuh bugil Ika, kuciumi wajah, pipi,
dan kamipun beciuman mesra, kamipun tertidur pulas hingga pagi tanpa sehelai
benang nempel di kedua tubuh bugil kami.
Pagi
pun merangkak ke siang, aku terjaga dan kulihat di sebelahku Ika sudah tidak
ada. Dengan perasaan malas aku bangun dan menuju ke kamar mandi. Sesampai di
sana kulihat Ika membelakangi pintu dan sedang menyikat gigi, perlahan kudekati
dan kupeluk dari belakang, tak lupa tanganku mampir di kedua buah dada Ika.
“Eh dah
bangun ya mas?” sapa Ika. Kurasakan penisku menegang lagi, dengan posisi
demikian kurenggangkan kedua kaki Ika dan perlahan kumasukkan penisku dari
belakang. Ika mengerang lirih dan berpegangan pada tepi bak mandi, sampai
akhirnya Ika mencapai orgasmenya.
Setelah
itu ia jongkok di depanku dan mulai mengulum penisku sampai mencapai orgasme
yang ditelan Ika sampai habis.
Setelah
mandi dan sarapan, kami berdua bersantai di teras depan losmen. Kemudian Ika
bertanya dengan perasaan sedih, “Mass, kira-kira besok-besok gimana ya hubungan
kita..” tanyanya sedih. “Mau kamu gimana Ka? balasku bertanya lagi. “Mau Ika
kita gak buru-buru putus mas, setelah peristiwa semalam sampai hari ini,
kayaknya Ika suka deh sama mas Anton?” katanya sambil mulai meneteskan air
mata. Aku bangkit dan memeluk dirinya, ku elus punggung dan rambutnya. “Mas
juga sama kok perasaannya dengan kamu sayang” kataku menghibur. “Kita lihat
besok aja ya, dan aku janji selalu menghubungi kamu ya Ka.” kataku kemudian.
Ika hanya mengangguk lemah.
Sejak
itu sesuai dengan janjiku, aku selalu mengunjunginya dan kami masih berhubungan
intim terus, bila tidak di kostanku ya di kostnya Ika. Sampai suatu saat dia
bilang kalau dilamar oleh cowoknya yang dulu, dimana cowoknya telah mengakui
kesalahannya dan berjanji tidak akan menyakiti Ika lagi. Aku pun agak goncang,
tetapi gimana lagi, aku sendiri masih kuliah, masih nodong orang tua, sementara
cowok si Ika telah bekerja, akhirnya kuihklaskan kepergian Ika. Sebelum
berpisah Ika kuajak ke Tawangmangu selama dua hari, berdua memuaskan hasrat
sebelum berpisah. Memang Ika sendiri tidak bisa menolak cowok tersebut yang
masih terhitung famili jauhnya, setelah kunasihati akhirnya Ika mau mengerti
dan menerima lamaran cowoknya.
Kini
aku jomblo lagi, sementara cewekku dulu sudah aku putus kemarin-kemarin, yah
semoga bro-bro masih mau membaca kisah petualanganku yang lain di lain cerita.
sebuah kisah ngentot yang
menggairahkan. Suntuk! Satu kata yang membawaku melarikan motor kesayanganku
membelah dinginnya malam bulan Agustus, menuju ke pusat keramaian kota
Yogyakarta, Maliboro. Terus terang fikiranku kacau, wanita yang aku sayangi
sore tadi pergi tanpa pamit bersama temannya ke luar kota. Padahal sudah lima
hari ini tak diberinya jatah sex, dengan alasan sedang ujian tengah semester.
Mau meledak rasanya kepala ini, harus kusalurkan nafsu ini bila tak ingin
uring-uringan terus. Terbayang di benak semua rencana tuk malam ini memberi
kepuasan dirinya dan pelampiasan nafsuku, sebutir obat kuat telah kusiapkan
disaku calana. SIAL! makiku dalam hati…
Warung
itu terlihat sepi. Sebetulnya bukan warung, lebih mirip gerobak dorong makanan
yang terparkir di pinggir jalan seberang toko Ramai Malioboro. Kuparkir motor
di depan gerobak makanan itu, kupesan segelas jahe tape untuk mengusir
dinginnya malam. Kulirik jam baru setengan sembilan malam, tinggal setengah
jam lagi bubaran toko-toko sepanjang Malioboro, dimana pelayan-pelayan toko berhamburan keluar toko untuk pulang. Kuraih rokok di saku jaket yang tinggal tiga batang, kunyalakan dan kuhisap kuat sambil kuhembuskan keras ke udara. Dinginnya malam tak cukup untuk mendinginkan hati ini, terlebih dalam calanaku yang menginginkan jatah. Fikiranku melayang mencari cara memenuhi hasrat ini.
jam lagi bubaran toko-toko sepanjang Malioboro, dimana pelayan-pelayan toko berhamburan keluar toko untuk pulang. Kuraih rokok di saku jaket yang tinggal tiga batang, kunyalakan dan kuhisap kuat sambil kuhembuskan keras ke udara. Dinginnya malam tak cukup untuk mendinginkan hati ini, terlebih dalam calanaku yang menginginkan jatah. Fikiranku melayang mencari cara memenuhi hasrat ini.
Waktu
pun berjalan, fikiranku terus berkecamuk, terdengar suara wanita memesan
segelas teh hangat di sampingku. Kugeser letak dudukku, kulirik dia, hmm
lumayan juga nih cewek. “Permisi mas numpang duduk” sapanya. “Oh monggo,
silahkan-silahkan” jawabku memberi tempat kepadanya. “Kok belum pulang mbak?”
tanyaku membuka percakapan. “Iya mas, tunggu jemputan, tapi kok belum kelihatan
ya” jawabnya sambil menengok kiri dan kanan. “Biasanya dah jemput dari tadi lho
mas” tambahnya. Tiba-tiba Hp di tas wanita itu berbunyi, kulihat dia menjawab
telepon itu, kuperhatikan wajahnya. Alamak! wajah itu tertekuk marah, menambah
manis wajah ayunya. “Kurang ajar” katanya sambil menutup pembicaraan
teleponnya. “Kenapa mbak, kok marah-marah?” tanyaku padanya. “Dasar cowok gak
tahu di untung, minggat sana sama gendaknya” maki dirinya kepada cowok di
telepon tadi. Tiba-tiba dia menelungkupkan wajah ayunya ke atas meja sambil
menangis. Wah kacau nih, pikirku. “Sudahlah mbak, nggak usah dipikirin,
laki-laki emang begitu” rayuku sambil tak kusadari bahwa aku juga laki-laki
yang mungkin lebih berengsek dari cowoknya tadi.
“Gimana
kalau saya saja yang mengantar embak?” kutawari diriku untuk mengantar. Wanita
itu menengadah, terlihat air mata yang masih mengalir dari kedua boal matanya.
Oh My God, ayu tenan gumam hatiku, wajahnya itu lho lucu, imut, kasihan diterpa
cahaya lampu tempel di meja gerobak dagangan makanan. “Mas nggak papa? Nanti
ada yang marah? tanyanya sambil menatap lekat padaku. “Kita senasib kok mbak,
Anton” kataku memperkenalkan diri sambil meraih tangannya menuju motor. Setelah
kubayar minuman kita, kuulurkan helm kepadanya. Motor kustarter, dia duduk
dibelakangku. “Aku Ika mas. Senasib bagaimana sih mas?” tanyanya padaku. “Aku
juga ditinggal cewekku sore tadi, dia pergi sama teman-temannya tanpa pamit
padaku” jawabku. “Tinggalmu di daerah mana mbak?” tanyaku. “Apa” tanyanya
sambil mendekatkan kepalanya ke samping kepalaku, seerrr… payudara yang bulat
kencang, sekarang nempel merapat di punggungku, terjadilah pemberontakan di
dalam celana dalamku. Sial… aku lupa mencukur bulu bawahku, sekarang terasa
perih menggigit terdesak pisang ambonku yang perlahan serta pasti mengeras.
“Kenapa mas?” tanyanya sekali lagi padaku. Wajah gadis itu di sebelah kanan
agak kebelakang arah wajahku, kutengok ke samping kanan, persis yang kuduga
sebelumnya, begitu menengok, kucium lembut dan menyentuh pipi serta sedikit
mulutnya, “iiiihhh, nakal ya masnya ini” katanya sambil mencubit pinggangku.
Haa haa haa… “Kostmu daerah mana adik manis?” tanyaku menahan perih di pinggang
akibat cubitannya. “Enggak tau, aku lagi males pulang” cemberutnya sambil terus
mencubit pinggangku. Kuhentikan motorku di tepi jalan. “Kok berhenti mas?”
tanyanya. “Habis kamu nyubit terus dan gak di lepas-lepas sih… nanti gimana
jalan motornya?” candaku. “Habis masnya juga genit sih, pake ngesun segala”
ujarnya. “Nah gitu dong, jangan sedih terus, ntar ilang lho manisnya” kataku
cengengesen. “Tu kan… mulai lagi” ketusnya sambil bersiap untuk mencubit
pinggangku lagi. Kutangkap tangan lembut itu, kugenggam mesra sambil bertanya
“Trus kita mau ke mana cah ayu?” Ditundukkannya wajahnya “Terserah mas aja lah.
pokoknya aku males pulang ke kostan”. “Ya oke deh, kita nikmatin malam ini
berdua aja ya” jawabku. “He eh” sambutnya sambil melendot manja, ah dasar
wanita dirayu sedikit, keluar deh manjanya. Kulaju motorku ke arah selatan
Yogya. Namanya rejeki gak lari ke mana, sorak hatiku.
Sampailah
kita di daerah pantai Parang Tritis, angin laut selatan menyambut kita disertai
dinginnya musim kemarau bulan Agustus. Kulepas jaketku dan kukenakan kepadanya
yang hanya berkaus ketat berlengan pendek. Kuparkir motor di atas pasir pesisir
pantai, kurengkuh bahunya untuk duduk di pasir, dia diam saja, pandangan jauh
menatap kelamnya lautan. “Kenapa, kok ngelamun” tanyaku. “Tauk nih, kita kan
baru beberapa jam lalu kenalan, kok udah akrab ya” jawabnya. “Emang kenapa?
nggak boleh? Aku suka dari pandangan pertama tuh” kataku ngawur. “Iiiiih,
ngawur lagi deh” sergahnya sambil mulai mencubitku lagi. Sebelum tangan itu
sampai, aku bangkit berlari menghindar, terjadilah kejar-kejaran diantara kami,
sampai suatu saat kakiku tersandung lobang dan jatuh. Karena jarak kami tidak
terlalu jauh, dia pun ikut terjatuh, sebelum sempat kusadari, reflek tanganku
meraih tubuhnya, berpelukanlah kami berdua. Dia terdiam, akupun menahan nafas,
perlahan kusorongkan wajahku mendekati wajahnya, kucium lembut bibirnya, ia pun
membalas sambil memejamkan matanya, kami berdua terhanyut, melayang tinggi
dengan latar belakang deburan ombak pantai selatan.
Malampun
semakin larut, kami memutuskan untuk menginap di salah satu losmen yang berada
i sekitar pantai. “Kok kamu mau menginap dengan cowok yang baru kamu kenal sih”
bisikku ketelinganya. “Habis mas baik sih, mau nemenin Ika yang lagi sebel”
katanya manja. Kuraih wajahnya, kepagut bibir mungil Ika, kami berdua berciuman
mesra. Tangan kananku memeluk pinggang, tangan kiriku bergerilya masuk ke dalam
kaus Ika. Cumbuan kualihkan ke leher jenjang Ika, dia mendesis dipeluknya
tubuhku. “Sss…mass… enaaakk” erang Ika. Tangan kiriku berusaha masuk melalui
bra yang agak ketat, sedang tangan kananku berusaha membuka kaitan bra di
punggung Ika. “Mas Ann… ton… Ika lee.. messs nih… sambil tiduran yuk…?”
pintanya. Kurebahkan diri Ika ke atas ranjang, kumainkan kedua belah payudara
Ika, Ika terpejam kembali dengan mengerang perlahan… sss… sss… yang keras mas
remasnya… sss…
Kubungkukkan
bandan, mendekat ke arah payudara Ika, ku kulum puting sebelah kiri sementara
tangan kananku meremas sebelah kanan. Tangan ika menjambak rambutku… Sss…
enaaakk… masssss… hisap yang kuat sayang… Jilatanku kuteruskan menelusuri
sampai ke pusar, kumainkan lidahku di lubang pusar Ika. Malam kian larut,
deburan ombak terdengar sampai ke dalam kamar losmen, seakan musik mengiringi
deru nafas memburu kami berdua. Kupandangi tubuh Ika, kuusap mesra wajahnya,
Ika memandangku pasrah, kubelai perutnya dengan tangan kanan, terus turun
hingga ke celana panjang Ika. Kubuka kancing celana Ika, kuturunkan resluiting
dan kubelai dengan punggung tanganku.
“Mas
Anton… jangan siksa Ika dong… cepet copot baju dan celana mas juga” pinta Ika
seperti memelas. “Sebentar sayang, mas mau buang air kecil dulu ya” kataku
sambil berlalu ke kamar mandi. Aku mencopot baju dan celanaku serta celana
dalamku sambil mengelus penisku “sabar ya sayang, nanti kukenalkan pasanganmu”
kataku bergumam senang. Ika terpekik tertahan melihat kondisiku yang bugil,
sambil menutup mulutnya. “Mas Anton… kok gede banget penisnya? kira-kira muat
gak ya unya saya?” tanyanya. “Kamu masih perawan Ka?” tanyaku mendekatinya.
“Udah enggak sih… cuman dah lama gak kemasukan, apalagi segede punya emas?”
jawabnya senyum dikulum. “Ya udah nikmatin dulu deh punya emas ini ya” kataku
sembari menyodorkan penisku ke wajahnya. Ikapun bangkit dan menyentuh penisku
sembari dijilatinya, kemudian memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya,
terlihat sesak tatkala dia memasukkan batangku.
Aku
tersenyum melihatnya terbelalak-belalak. “Cape nih mas mulut Ika, pegel!”
protesnya. “Ya udah, sekarang giliran emas mau cium vegi Ika ya” kataku
meredakan protes Ika. Kemudia Ika kembali tiduran sembari mengangkangkan kedua
pahanya, kudekatkan kepalaku di selangkangan Ika yang memang luar biasa
bersihnya kemaluan ika dengan rambut sedikit dirapikannya, kumulai mengulum
kemaluan Ika. Kedua tangan Ika menjambak rambut di kepalaku. “Achhh… terus
masss… yesss… gigit masss…” erang Ika seperti cacing kepanasan. Gila aja cowok
goblok itu, barang sebagus ini disia-siakan bathinku berkata sembari terus
menjilat dan sesekali kumasukkan lidahku kedalam liang vegi Ika. “Maasss…
aaakkkuu… nyammpeee…!” jerit Ika sembari menekan kepalaku ke dalam vaginanya.
Tubuh Ika bergetar hebat, dari lubang kemaluan Ika keluar lendir orgasme yang
lansung tak kusia-siakan untuk menyedotnya ternyata gurih sekali cairan orgasme
Ika. Setelah beberapa saat Ika tergolek lemas seperti tak bertenaga, kudekati
Ika dan berbaring di sisinya, kukecup keningnya dan kubelai rambut Ika, “Gimana
rasanya sayang?” tanyaku. Ika tak menjawab, hanya tatapan sendu serta senyuman
Ika yang mewakili sejuta kata-kata yang mewakili dirinya mencapai puncak
kenikmatan.
Kemudian
aku bangkit, melumuri penisku dengan air ludah, agak kuangkat Ika untuk agak
menepi dari ranjang. Perlahan aku arahkan penisku ke tengah selangkangan Ika.
“Pelan-pelan ya mas…” pinta Ika memohon. Pertama ku sibak bibir vagina Ika,
kemudian kutempelkan kepala helm penisku di tengah vaginanya, perlahan-lahan
kudorong masuk ke dalam. Dengan orgasmenya Ika tadi, seolah telah siap untuk
menerima kedatangan penisku, tetapi tetap saja agak sempit.
Kulihat
Ika agak meringis, “Kenapa Ka?, sakit ya?” tanyaku. “Sedikit mas, tapi gak pa
pa kok, Ika tahan”. Aku gak mau buru-buru, sedikit demi sedikit kukeluar
masukkan batang penisku ke dalam vagina Ika. Setelah masuk setengah, kudiamkan
sejenak untuk memberi waktu vagina Ika menyesuaikan dengan batang penisku,
kulihat Ika menatapku, “Kenapa berhenti mas? aku dah mulai merasa enak kok
rasanya” kata Ika sedikit protes atas perbuatanku. Memang aku penjahat kelamin,
kata teman-temanku, sebetulnya aku sendiri gak setuju karena menurut diriku
sendiri aku adalah penyayang kelamin, gak mau asal aja make love dan wanita
merasa sakit, karena prinsipku hubungan sex itu adalah kepuasan antara dua
insan berlainan jenis.
Setelah
kulihat Ika sudah terbiasa dengan penisku, mulailah kumaju mundurkan senjataku
tersebut, sambil melirik Ika. Ternyata Ikapun sudah menikmati keluar masuknya
penisku di vaginanya. Sekitar lima menit kemudian Ika kontraksi, rupanya dia
sudah mau mencapai orgasme lagi. Massssss…akkkuuu… nyammmppeee… erangnya sambil
memeluk erat tubuh serta menjepit keras pinggulku. Aku imbangi orgasme Ika
dengan menancapkan batang penisku dalam-dalam.
“Gimana
sayang?” tanyaku. “Waduh mas luar biasa deh” jawabnya sambil terengah-engah.
Kemudian Ika aku suruh telentang di atas rajang, kemudian aku naik di atas
tubuh Ika, kujilati sekitar payudara Ika yang memang sudah basah oleh
keringatnya. Kemudian kusuruh kedua tangan Ika untuk menjepit kedua
payudaranya, setelah itu batang penisku aku tusukkan di tengah jepitan
payudaranya. Ika tersenyum paham dengan perbuatanku dan bertanya “Kenapa gak
dikeluarin di dalam vagina Ika aja mass?” tanyanya. “Enggaklah, nanti kamu
hamil lagi” jawabku. Ikapun tersenyum manis. Kukocok kemaluanku di jepitan
payudara Ika, tak berapa lama terasa ada sesuatu yang akan meledak dari ujung
kemaluanku, Ika menengadah ke arah payudaranya, “Kaaa… masss mau sammmpe juga
nihhh…” erangku. Kulihat Ika membuka mulutnya, seolah mau menampung muncratan
orgasme ku. Melihat hal itu buru-buru ku copot penisku dari jepitan payudara
Ika dan kumasukkan ke mulut Ika, disambutnya penisku dan di kulumnya.
Meledaklah semua spermaku di mulut Ika sampai tetes mani terakhir. “Enak kok
mas, gurih… Ika seneng sama sperma emas?” kata Ika sambil tersenyum. Akupun
seperti habis berlari berpuluh-puluh meter, nafasku tersengal tetapi senyumku
masih bisa kupaksakan untuk Ika. Kupeluk tubuh bugil Ika, kuciumi wajah, pipi,
dan kamipun beciuman mesra, kamipun tertidur pulas hingga pagi tanpa sehelai
benang nempel di kedua tubuh bugil kami.
Pagi
pun merangkak ke siang, aku terjaga dan kulihat di sebelahku Ika sudah tidak
ada. Dengan perasaan malas aku bangun dan menuju ke kamar mandi. Sesampai di
sana kulihat Ika membelakangi pintu dan sedang menyikat gigi, perlahan kudekati
dan kupeluk dari belakang, tak lupa tanganku mampir di kedua buah dada Ika.
“Eh dah
bangun ya mas?” sapa Ika. Kurasakan penisku menegang lagi, dengan posisi
demikian kurenggangkan kedua kaki Ika dan perlahan kumasukkan penisku dari
belakang. Ika mengerang lirih dan berpegangan pada tepi bak mandi, sampai
akhirnya Ika mencapai orgasmenya.
Setelah
itu ia jongkok di depanku dan mulai mengulum penisku sampai mencapai orgasme
yang ditelan Ika sampai habis.
Setelah
mandi dan sarapan, kami berdua bersantai di teras depan losmen. Kemudian Ika
bertanya dengan perasaan sedih, “Mass, kira-kira besok-besok gimana ya hubungan
kita..” tanyanya sedih. “Mau kamu gimana Ka? balasku bertanya lagi. “Mau Ika
kita gak buru-buru putus mas, setelah peristiwa semalam sampai hari ini,
kayaknya Ika suka deh sama mas Anton?” katanya sambil mulai meneteskan air
mata. Aku bangkit dan memeluk dirinya, ku elus punggung dan rambutnya. “Mas
juga sama kok perasaannya dengan kamu sayang” kataku menghibur. “Kita lihat
besok aja ya, dan aku janji selalu menghubungi kamu ya Ka.” kataku kemudian.
Ika hanya mengangguk lemah.
Sejak
itu sesuai dengan janjiku, aku selalu mengunjunginya dan kami masih berhubungan
intim terus, bila tidak di kostanku ya di kostnya Ika. Sampai suatu saat dia
bilang kalau dilamar oleh cowoknya yang dulu, dimana cowoknya telah mengakui
kesalahannya dan berjanji tidak akan menyakiti Ika lagi. Aku pun agak goncang,
tetapi gimana lagi, aku sendiri masih kuliah, masih nodong orang tua, sementara
cowok si Ika telah bekerja, akhirnya kuihklaskan kepergian Ika. Sebelum
berpisah Ika kuajak ke Tawangmangu selama dua hari, berdua memuaskan hasrat
sebelum berpisah. Memang Ika sendiri tidak bisa menolak cowok tersebut yang
masih terhitung famili jauhnya, setelah kunasihati akhirnya Ika mau mengerti
dan menerima lamaran cowoknya.
Kini
aku jomblo lagi, sementara cewekku dulu sudah aku putus kemarin-kemarin, yah
semoga bro-bro masih mau membaca kisah petualanganku yang lain di lain cerita.



0 komentar