Ini adalah sebuah cerita dewasa ML di kostan dengan teman pacar! Berikut cerita
lengkapnya! Ini adalah pengalamanku beberapa bulan lalu di tempat kost pacarku
Nina. Aku sudah terbiasa keluar masuk di tempat kost itu baik itu bersama Nina
atau sendirian. Kadang aku juga nginep kalau kemalaman. Kost ini memang nggak
ada yang ngawasi, pemiliknya hanya datang sebulan sekali ambil duit.
Suatu
hari aku datang ke kost Nina, sialnya pas saat itu Nina sudah keburu pergi ke
Bromo bersama teman kuliahnya. Dalam hatiku aku mengumpati si Nina yang nggak
lagi pamit kek atau ngasih tahu seperti biasanya. Mentang-mentang dia ada yang
naksir lagi trus aku mulai nggak dianggap lagi.
Sore
itu iseng-iseng aku nyalakan komputer di kamar Nina, ntar biar aku masukin
virus makro-nya MS-Word lagi biar ilang semua ketikan dia. Tapi aku main DOOM
dulu biar medongkolku agak berkurang. Belum lima belas menit aku main tiba-tiba
pintu kamar yang nggak aku kunci terbuka. Eva dengan celana pantai dan kaos
dagadunya sudah menerombol masuk ke kamar Nina. Waduh aku kena jadi sembur
monster Doom deh.
“Hai
mas,… sedang apa ?” si Eva teman sekost nya Nina datang, wah si Eva nih pasti
minta tolong ngetik lagi.
“Minta tolong dong mas,…” pintanya sambil berganyut di daun pintu. Aku pura-pura nggak mau
“Minta tolong dong mas,…” pintanya sambil berganyut di daun pintu. Aku pura-pura nggak mau
“Aduh,..
aku bener-bener capek sekarang Va,… kalau kamu sendiri mau pake komputer ini
pake aja” Eva memonyongkan bibirnya, aku tahu dia nggak lancar ngetik maklum
nggak sering make komputer.
“Tolonglah mas,… aku nggak bisa ngetik lancar nih apalagi ini banyak rumusnya, bisa-bisa dua lembar selesai dua hari “. Memang sih kalo MSWord pake rumus mesti klak-klik terusan ngerjakannya.
“Tolonglah mas,… aku nggak bisa ngetik lancar nih apalagi ini banyak rumusnya, bisa-bisa dua lembar selesai dua hari “. Memang sih kalo MSWord pake rumus mesti klak-klik terusan ngerjakannya.
“Kamu
bawa ke rental saja deh, ntar disana ada kok yang mau ketikin”.
“Penuh,… besok sudah harus dikumpulin” jawabnya singkat.
“Duh mahasiswa, kebiasaan pake acara dadakan tuh,… Oke aku ketik tapi nanti kamu harus pijitin aku. Bagaimana ?” aku mengajukan penawaran.
“Nanti kalo ketahuan Nina ?” Eva memandang langit-langit dan aku memandangi pahanya.
“Enggak,… kan Nina lagi ke Bromo”
“Penuh,… besok sudah harus dikumpulin” jawabnya singkat.
“Duh mahasiswa, kebiasaan pake acara dadakan tuh,… Oke aku ketik tapi nanti kamu harus pijitin aku. Bagaimana ?” aku mengajukan penawaran.
“Nanti kalo ketahuan Nina ?” Eva memandang langit-langit dan aku memandangi pahanya.
“Enggak,… kan Nina lagi ke Bromo”
Singkatnya
penawaranku diterima dan aku langsung ketik naskah punya Eva. Baru dua paragraf
aku ketik, aku jadi teringat kalau aku juga pernah ketik naskah semacam ini
untuk Nina. So jadi tinggal Copy dan Paste lalu Edit sedikit dan selesai.
“Di
print sekalian nggak nih Va ?” tanyaku pada Eva yang malah asik bolak-balik
majalah punya Nina.
“Lho kok cepet sekali, nggak ada yang salah ketik apa ?” ia bangkit dan mendekat ke arah monitor memeriksa naskah itu. Eva agak membungkuk membaca hasil ketikanku di monitor. Eh ada kesempatan baik, leher kaosnya jadi turun dan aku bisa melirik tetek milik Eva. Luar biasa, sekilas saja aku bisa pastikan tetek milik Eva masih kencang.
“Lho kok cepet sekali, nggak ada yang salah ketik apa ?” ia bangkit dan mendekat ke arah monitor memeriksa naskah itu. Eva agak membungkuk membaca hasil ketikanku di monitor. Eh ada kesempatan baik, leher kaosnya jadi turun dan aku bisa melirik tetek milik Eva. Luar biasa, sekilas saja aku bisa pastikan tetek milik Eva masih kencang.
“Eh
nakal ya,…” aduh ketahuan deh. Eva segera bangkit dan menutup leher kaosnya.
Aku nyengir-nyengir saja. Tapi dia nggak serius tuh marahnya, Eva malah
senyum-senyum malu sambil memaksakan diri melotot.
“Ntar aku bilangin Nina lho, mas suka ngintip” ancamnya lagi.
“Ah bukannya kamu yang suka ngintip kalo aku pas tidur sama Nina”, aku balikan kata sambil menyalakan printer. Memang Eva pernah ketahuan ngintip pas aku sedang minta jatah biologis sama Nina.
“Ntar aku bilangin Nina lho, mas suka ngintip” ancamnya lagi.
“Ah bukannya kamu yang suka ngintip kalo aku pas tidur sama Nina”, aku balikan kata sambil menyalakan printer. Memang Eva pernah ketahuan ngintip pas aku sedang minta jatah biologis sama Nina.
“Nih ”
empat lembar naskah itu sudah tercetak dan aku serahkan sama Eva.
“Trims ya mas,…. Jadi nggak pijit nya ?”
“Oh ya jadi dong,…”
“Trims ya mas,…. Jadi nggak pijit nya ?”
“Oh ya jadi dong,…”
Aku
tiduran di ranjang dan Eva memijiti punggungku. Pintu aku tutup tapi nggak aku
kunci. Aku melepaskan baju yang aku pakai, aku bilang takut kusut. Pijatan Eva
terasa enak sekali malah seperti sudah prof. Dari leher sampai pinggang diurut
dengan seksama.
“Va,…
kamu cerita sama Budi (pacarnya Eva) nggak ?” tanyaku membuka kebisuan.
“Cerita apa ?”
“Tentang yang kamu intip itu”
“Ah ya enggak dong ”
“Bener ?”
“Iya,..!!!”
“Cerita apa ?”
“Tentang yang kamu intip itu”
“Ah ya enggak dong ”
“Bener ?”
“Iya,..!!!”
Dua
puluh menit aku dipijitin sama si Eva lalu dia mengeluh capek. Aku menawarakan
diri untuk gantian pijit.
“Ah
enggak ah, geli,…”.
“Tapi enak lho Va percaya deh” mulanya dia nolak tapi akhirnya mau juga. Aku bangkit sambil aku geser dia untuk naik ke ranjang. Aku pijit mulai dari lehernya lalu turun ke punggung dan pinggang. Aku perhatikan paha bagian belakang Eva mulusnya bukan main, putih lagi.
“Tapi enak lho Va percaya deh” mulanya dia nolak tapi akhirnya mau juga. Aku bangkit sambil aku geser dia untuk naik ke ranjang. Aku pijit mulai dari lehernya lalu turun ke punggung dan pinggang. Aku perhatikan paha bagian belakang Eva mulusnya bukan main, putih lagi.
“Va
kamu pernah nggak main sama Budi ?” aku beranikan diri untuk masuk ke dalam
topik yang rada ngeres.
“Main apaan ?”
“Main kayak aku sama Nina”
“Ehm,… mulai aneh-aneh ya,…”
“Cuma nanya kok ”
“Kalo pernah kenapa dan kalo belum pernah juga kenapa ?”
“Yah nggak apa-apa, cuma pingin tahu aja, kamu tahu aku sama Nina, aku juga kepingin tahu kamu dengan Budi”
“Nggak ah,… nggak aku jawab”
“Ah berarti pernah nih”
“Lho kok bisa ambil kesimpulan?”
“Iya biasanya kalo belum pernah pasti jawabnya tegas belum”
“Terus, kalo aku sudah pernah main sex begitu sama Budi kenapa juga”
“Yah,… barangkali,….” Aku sengaja nggak nerusin kata-kataku.
“Barangkali apa ?!”
“barangkali aku boleh coba”
“Ah nggak mau,….”
“Kenapa,…”
“Aku takut, punya mas besar sekali”
“Justru yang besar itu yang enak tahu ”
“Main apaan ?”
“Main kayak aku sama Nina”
“Ehm,… mulai aneh-aneh ya,…”
“Cuma nanya kok ”
“Kalo pernah kenapa dan kalo belum pernah juga kenapa ?”
“Yah nggak apa-apa, cuma pingin tahu aja, kamu tahu aku sama Nina, aku juga kepingin tahu kamu dengan Budi”
“Nggak ah,… nggak aku jawab”
“Ah berarti pernah nih”
“Lho kok bisa ambil kesimpulan?”
“Iya biasanya kalo belum pernah pasti jawabnya tegas belum”
“Terus, kalo aku sudah pernah main sex begitu sama Budi kenapa juga”
“Yah,… barangkali,….” Aku sengaja nggak nerusin kata-kataku.
“Barangkali apa ?!”
“barangkali aku boleh coba”
“Ah nggak mau,….”
“Kenapa,…”
“Aku takut, punya mas besar sekali”
“Justru yang besar itu yang enak tahu ”
“Ah
masak ?” Eva memutar badannya dari yang tadinya telungkup jadi telentang. Aku
nggak buang waktu lagi, aku segera menindihnya. Eva gelagepan ketika aku serang
teteknya yang membuat aku penasaran dari tadi. Aku ciumi lehernya sampai dia
terengah-engah kehabisan nafas. Ketika aku dapatkan bibirnya tanganku mulai
melepasi kaos dan celana pantai sekalian cd-nya. Aku tangkap gundukan daging di
selangkangannya dan dengan jari tengahku aku gosok lipatan dagingnya yang sudah
becek dengan lendir. Eva jadi Ahhh uhhhh sambil menggelinjang ke kanan dan ke
kiri.
Tiba
tiba Eva jadi buas, ia mendorong tubuhku dan duduk diatas perutku membelakangi
aku. Dengan terburu-buru ia melepaskan ikat pinggang celana yang aku pakai. Aku
ngeri takut kalau resleting celanaku makan korban. Dan sebentar saja Eva sukses
menurunkan celana yang aku pakai sebatas lutut. Dan bongkahan daging yang
sedari tadi sudah membengkak diselangkanganku menyembul keluar. Eva meremasnya
kuat-kuat sebelum ia memundukkan pantatnya ke arah mukaku dan “slup” bongkahan
dagingku itu sudah masuk dalam mulutnya. Nggak nyangka, Eva yang selama ini aku
kira diem eh ternyata,…. Boleh juga permainannya.
Aku
juga nggak tinggal diam, memiaw Eva yang hampir tanpa bulu itu sudah terpampang
didepan mukaku dan aku hisap serta jilati sepuasnya. Lidahku aku julurkan
mencoba menerobos ke dalam lobang memiaw Eva. Sejenak ia melepaskan kulumannya
dan menengadah sambil merancu “Ehhh lagi mas ehhh terus terus yah yang itu
ehhhh” ….
Aku
nggak tahan lagi didiemin barangku. Segera aku dorong pantat Eva sehingga ia
telungkup lagi dan aku arahkan rudal scottku ke balik pahanya.
“Agak
diangkat dikit dong Va” pintaku supaya Eva agak nungging. Ia menuruti sambil
membuka selangkangannya lebih lebar. Dan aku mulai membenamkan rudalku dalam
memiawnya. Ia meringis dan katanya punyaku lebih besar dari pada milik si Budi.
Tapi ketika aku mulai membenamkan lebih dalam lagi Eva melotot dan mengaduh kesakitan.
Mungkin karena ia baru pertama kali ini mendapatkan the real penis macam punya
aku. Aku diamkan sebentar sambil menenangkan Eva. Kalau gara-gara ini akhirnya
di cancel wah rugi dong aku.
Aku
mulai pelan pelan menarik dan membenamkannya lagi sampai Eva terbiasa. Nggak
seberapa lama kok, lima enam kali memiaw Eva sudah bisa adaptasi dengan
punyaku. Meskipun begitu lobang memiaw Eva masih terasa menggenggam batang
dagingku erat sekali. Jadi ingat rasanya seperti pertama aku memperawani si
Nina dulu. Nggak sampai sepuluh menit Eva sudah kejang melepaskan orgasmenya
yang pertama. Ah dasar pemula sih. Aku berhenti sejenak disaat aku sudah sampai
pada tujuh puluh lima persen hampir orgasme.
Aku
bangkitkan lagi gairahnya dengan meremas kedua puting tetek Eva dari belakang.
Berhasil, Eva mulai menggoyangkan lagi pantatnya dan aku nggak buang waktu
lagi, aku segera mengayunkan ke depan dan kebelakang mengimbanginya. Eva
orgasme sampai empat kali sebelum yang kelimanya aku dan Eva orgasme
bareng-bareng. Aku hamburkan semua spermaku dalam memiaw Eva yang berdenyut
kuat dan aku tertidur.
Aku
bangun sekitar pukul setengah sembilan dengan kemaluan masih menancap dalam
memiaw Eva. Aku bangunkan dia dan,… asiknya si Eva jadi minta lagi. Malam itu
aku ganti ganti style mulai dari frontal, berdiri, doggy style juga dengan
duduk diatas kursi. Aku bermalam di tempat kost itu kali ini bukan di kamar
Nina tapi di kamar Eva. Aku jadi nggak kesepian lagi meski Nina ke Bromo sampai
empat hari dan empat hari itu aku dan Eva menggunakan kesempatan
sebaik-baiknya.
Eva
pindah kost setelah dua minggu sejak itu. Tempat kost baru Eva sejenis dengan
tempat kost sebelumnya bebas keluar masuk. Aku dapat dua jatah satu dengan Nina
satu lagi dengan Eva. Terus terang aku lebih suka main dengan Nina yang lebih
prof daripada Eva. Beberapa hal yang aku suka pada tubuh Eva adalah memiawnya
yang nggak terlalu banyak bulu dan teteknya yang begitu ranum, sedang yang aku
suka pada Nina adalah teknik main sexnya yang luar biasa. Sorry nggak sempat
aku ceritakan disini, mungkin lain kali. Buat Budi aku minta maaf telah
melanggar kebunmu, habis menurut Eva kamu kurang bersungguh-sungguh dan selalu
ketakutan dengan kehamilan. Kan ada tekniknya supaya nggak hamil tanpa harus
ketakutan,



0 komentar